Kopi Sinatah dari Desa Dudakawu Jepara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ruang etalase penjualan kopi Sinatah Dukuh Nggerot Desa Dudakawu Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara.

    Ruang etalase penjualan kopi Sinatah Dukuh Nggerot Desa Dudakawu Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara.

    TEMPO.CO, Jakarta - Salah satu dampak positif dari program pendidikan vokasi (ketrampilan) yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah munculnya cikal industri rumahan yang menghasilkan produk-produk lokal alternatif. Bahkan untuk produk kopi, program ini mendorong munculnya produk kopi dengan varian rasa unik, karena perbedaan kondisi perkebunan di suatu daerah bisa mempengaruhi citarasa biji kopi yang dihasilkan.

    Dan itulah yang terjadi di Desa Dudakawu Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara, sebuah daerah yang sebagiannya terdiri dari tanah pegunungan yang berhawa dingin. Daerah pegunungan yang indah dengan pohon-pohon yang menghijau di kanan-kiri, dan jalan mendaki-menurun-berkelok-menanjak membelah desa-desa ini salah satu daerah yang memunculkan fenomena “Om Telolet Om” sebelum kemudian fenomena itu menjadi terkenal di dunia maya.

    Adalah PKBM Puna Kawan yang berkedudukan di Kecamatan Kembang yang mendapat kepercayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menjalankan program desa vokasi pada 2016. Lembaga yang berdiri sejak 2008 ini memang berprestasi dalam memberdayakan masyarakat di bidang pendidikan non-formal, antara lain pendidikan kacakapan hidup (life skill), dan aksara kewirausahaan. Lembaga yang pernah menyabet juara I lomba tata boga tingkat provinsi Jawa tengah ini telah mendidik sekitar 1000 orang dengan tingkat keberhasilan tinggi.

    Dudakawu dipilih sebagai lokasi program desa vokasi, karena desa ini jauh dari kota Jepara (sekitar 35 km dari Jepara kota), memiliki potensi lokal yang belum diberdayakan, memiliki alam yang subur dengan mayoritas profesi sebagai petani, dan memang sedang menyongsong pembangunan desa wisata yang akan menjadikan Sendang Sinatah sebagai tujuan wisata. “Program vokasi ini jumbuh dengan rencana pemda menyongsong pembangunan desa wisata, “ kata Amin Ayabudi SPd. MH, Kepala Bidang Pemuda dan Olah Raga Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Jepara.  

    Selain itu ada alasan sosiologis. “Masyarakat di sini cenderung hidup nyaman, karena semua disediakan oleh alam, bahkan penjual sayuran pun mendatangi mereka dengan menggunakan sepeda motor. Kalau mereka tak diberdayakan, bisa terlena, “ kata Nuryadi S.Pd. MM, Ketua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Puna Kawan pada akhir November 2016.

    Begitulah, dan peta masalah pun dibentang. Potensi lokal pun diinventerisasi, antara lain bahwa daerah ini memiliki hasil pertanian berupa jagung, padi, palawija, pisang, ubi dan kopi. Keunggulan lain, daerah ini memiliki pemandangan pegunungan yang indah, dengan empat potensi wisata air terjun, dan sebuah sendang Sinatah yang merupakan tujuan wisata religi.

    Setelah itu prioritas pengembangan potensi lokal pun ditetapkan, yaitu penggemukan kambing, kerajinan souvenir dari kayu, pengolahan kopi – ketiganya di dukuh Nggerot, dan pelatihan tata boga yang berfokus pada pembuatan masakan kering. Dalam realisasinya, kegiatan penggemukan kambing berhasil menernakkan kambing dari 10 ekor menjadi 15 ekor selama 5 bulan.

    Pelatihan tata boga yang melibatkan 20 perempuan, sebulan mampu melakukan 4 kali produksi, dengan sekali produksi menghasilkan 100 kantung plastik. Produknya antara lain kripik singkong dan pisang aneka rasa, pisang crispy, dan masakan basah seperti cake dan puding yang terbuat dari waluh, atau jagung. “Pemasarannya masih terbatas, karena kami sedang mengurus izin produksi, “ kata Windarti, narasumber teknis tata boga.

    Sementara pelatihan pengolahan kopi setiap Sabtu yang melibatkan 20 perempuan telah menghasilkan kopi Robusta dalam kemasan sachet 10 gram dan 20 gram dengan merek Kopi Sinatah. Tapi di belakang itu kopi asli dari Desa Dudakawu ini memiliki cerita panjang. Penduduk setempat sejak tahun 2000 memang sudah merintis penanaman kopi, berdasarkan insting bahwa alamnya diperkirakan cocok untuk menanam kopi. Gayung bersambut pihak Perhutani yang memiliki lahan menyetujui insisiatif penduduk itu sembari untuk kepentingan pelestarian lingkungan. Sekitar 89 orang petani terlibat dalam penanaman kopi di atas lahan seluas 48 hektare ini. Awalnya mereka harus membeli bibit kopi dari Desa Tempur lereng Gunung Muria, namun kini mereka bisa menanam kopi dari hasil pembibitan sendiri.

    Setelah program desa vokasi hadir, rintisan pengolahan kopi semakin diseriusi. Sepaket pelatihan selama minimal 10 kali pertemuan pun dirancang. Mereka pun menghadirkan narasumber yang memiliki kompentensi tingkat nasional di bidang kopi. Perlatan pun didisediakan, antara lain peralatan penggorengan senilai Rp 5 juta bikinan sendiri, alat penggilingan seharga Rp 5 juta, alat pengemasan dan timbangan. “Program ini sangat membangkitkan semangat mereka, “ kata Nuryadi.

    Dalam mengolah kopi, mereka kemudian menerapkan ilmu yang diajarkan dalam pelatihan, antara lain menjaga kekhasan aroma dan rasa, menyimpan biji kopi lebih lama, karena penyimpanan biji  yang lebih lama akan menghasilkan kopi yang lebih baik, dan menjaga agar buah kopi yang dipetik adalah buah yang berwarna merah. “Jadilah ini kopi murni dari dukuh Nggerot,” kata Nuryadi. Sebelum pelatihan, mereka hanya mampu menjual kopi dengan harga Rp 25 ribu per kg. Setelah pelatihan, mereka berani memasang harga Rp 65 ribu per kg.

    Kopi Sinatah niscaya kopi unik dari Desa Dudakawu. Sayangnya stok kopi yang tersedia hanya dari jenis Robusta, karena menurut para peminum kopi sejati, varian dari kopi jenis Robusta sangatlah terbatas. Lain halnya jika mereka mampu menghasilkan kopi jenis Arabika yang memiliki varian yang sangat kaya, maka nilai keunikan kopi Sinatah akan semakin tinggi. Kosongnya stok kopi jenis Arabika dari daerah ini, karena faktor cuaca. “Karena pengaruh cuaca La Nina tahun lalu, kami tidak memiliki stok kopi Arabika,” kata Nuryadi. * Kelik M. Nugroho

              

               


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Macam Batal Puasa

    Ada beberapa macam bentuk batalnya puasa di bulan Ramadan sekaligus konsekuensi yang harus dijalankan pelakunya.