Jantung Para Penari

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Bunyi berdetak-detak memenuhi ruangan Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu lalu. Sumber bebunyian itu beragam, mulai jarum jam hingga metronom.Sementara itu, panggung yang disiram cahaya merah menyala menimpa beberapa penari. Mereka berdiri kontemplatif dililit media kain merah di sekujur tubuh. Ini adalah karya maestro balet Indonesia, Farida Oetoyo, bersama Kreativitat Dance Company berjudul Serdtse atau Jantung.Karya terbaru setelah lima tahun Farida tak mencipta ini tampil dalam pembukaan Gedung Kesenian Jakarta International Festival. Ia dicipta dengan sinopsis singkat: "Ketenangan, energi, bermasalah, hilang denyut... oom...." Sinopsis simpel ini memiliki makna mendalam bagi Farida. Soalnya, ayahnya meninggal akibat serangan jantung saat Farida masih berusia 14 tahun.Para penari yang semula bergerak pelan dan kontemplatif mendadak berubah sangat dinamis. Lekuk dan lentur tubuh mereka memecah struktur gerakan yang indah. Pembukaan yang kontemplatif itu pun menjadi sebuah pengantar pada lembar-lembar gerakan lincah. Ia seperti sebuah kerja jantung, ada yang tenang dan ada juga berdebar kencang. "Saya membuat ini karena ada bisikan, mencoba menolak tapi datang terus," kata Farida.Farida pun melibatkan sang anak, Sjuman Aksan atau Wong Aksan. Putranya ini dipercaya membuat komposisi musik sebagai pengiring karyanya. Karya Sjuman Aksan ini pun diinterpretasikan dalam permainan piano Masako Hamamura. Rupanya keterlibatan Sjuman Aksan ini menjadi pemicu Farida untuk kembali berkarya. Komposisi tari sebelumnya diisi oleh koreografer Yudistura Syuman dari EKI Dance Company berjudul Mimpi. Ia menampilkan koreografi tari berpadu dalam sebuah skenario dramaturgi. Tari ini dibuka secara menyentak dan memberontak oleh seorang laki-laki yang meneriakkan sebuah dialog. Kemudian, gestur-gestur selanjutnya kontemplatif dalam alam mimpi.Tari Mimpi ini berangkat dari pengalaman hidup yang pahit ibarat mimpi buruk. Jalan terbaik dari semua perjalanan itu adalah dengan melupakannya.Dialog-dialog yang digunakan dalam tari itu terkadang berbahasa Indonesia, Tionghoa, dan Jepang. Namun, sang koreografer membantah jika disebutkan bahwa bahasa itu adalah bahasa Jepang. Hanya intonasinya yang mirip. "Itu entah bahasa apa. Saya serahkan saja kepada pemain," katanya.Lantas, dengan caranya sendiri, koreografer Chendra Effendy membuka karya bertajuk You Had Me at Hello. Gerakan pembukanya sangat intens tapi menarik. Komposisi gerak ini menceritakan kisah cinta semalam yang ditemukan oleh sekeping koin. Kepingan koin ini kemudian jatuh ke tangan seorang pengamen. Kisah cinta pun berakhir dalam kenangan.Dari semua koreografi, kematangan Farida Oetoyo memang belum tertandingi. Kematangan Farida Oetoyo malam itu terlihat secara komposisi gerak, eksplorasi panggung, dan tema itu sendiri. Komposisi Serdtse atau Jantung itu benar-benar menggambarkan ketenangan, energi, masalah, dan hilangnya denyut kehidupan. Serdtse ini terwakili dalam semua karya koreografer yang malam itu muncul.andi dewanto

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.