Memanggil Spirit Wayang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:"Wayang, Spirit of Creation" menjadi tema Bengawan Solo Festival, yang digelar di Solo pada 1-7 September nanti. "Dari segi bentuk, wayang memang sudah sangat eksis sebagai sumber kreasi. Tapi persoalannya, bagaimana spirit wayang juga mampu menjawab perubahan zaman," kata Fafa Gendra Utami, koordinator pelaksana festival itu, memberi alasan mengapa wayang jadi tema acara.Ratusan seniman dan budayawan bakal terlibat dalam festival tersebut, seperti Garin Nugroho, Sardono W. Kusumo, Putu Wijaya, Elly Luthan, dan Slamet Gundono. Di antara mereka, ada yang akan memainkan wayang, membuat pertunjukan tari, seni rupa, musik, atau membicarakan soal masa depan wayang.Slamet Gundono, dengan wayang suketnya, akan menampilkan sebuah lakon yang diambil dari kitab Mahabarata, babon dunia pewayangan. Itu sebuah interpretasi atas kelahiran Gatotkaca. "Ketika para dewa meminta Gatotkaca dibawa ke kawah Candradimuka, terjadi perdebatan antara Arimbi dan Bima," kata Gundono menjelaskan rencana pertunjukannya dalam festival itu.Interpretasi mengenai cerita pewayangan juga dilakukan kelompok tari Sahita, yang akan mempertunjukkan karya berjudul The Karangkadempel Citizen. Menurut salah seorang dedengkot Sahita, Wahyu Inong Widayati, garapannya yang terbaru itu sebenarnya merupakan sebuah kritik atas pelaksanaan wajib belajar sembilan tahun.Di desa para Punakawan, ia menambahkan, wajib belajar tidak hanya berlaku sembilan tahun, tapi sembilan puluh tahun. "Belajar adalah hak semua orang, tidak terbatas tempat, usia, ataupun jenis kelamin. Wajib belajar sembilan tahun seperti membatasi hak belajar," kata Inong.Film musikal Opera Jawa Garin Nugroho akan menandai acara pembukaan festival kesenian terbesar sepanjang tahun ini di Kota Solo. Film Garin yang sebagian pengambilan gambarnya dilakukan di Solo serta melibatkan seniman-seniman Solo tersebut bakal diputar di Studio 21, yang berada di pusat perbelanjaan terbesar di Solo.Festival itu juga akan menggelar karnaval wayang yang diikuti 35 kelompok wayang dari berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur.I Wayan Sadra, komponis Sekolah Tinggi Seni Indonesia, yang menjadi dewan kurator peserta festival, mengatakan festival itu dirancang untuk memanggil kembali memori kolektif masyarakat Solo mengenai wayang.Sesungguhnya, ia melanjutkan, wayang sumber kreasi, tidak hanya di dunia kesenian, tapi juga dalam kehidupan masyarakat. Berbagai kegiatan yang digelar, baik seni rupa, musik maupun tari, bersumber pada wayang. "Tempat pertunjukan sengaja diadakan bukan di pusat-pusat kegiatan seni, melainkan di pusat-pusat kebudayaan baru, seperti mal dan kafe," kata Sadra.Kepala Dinas Pariwisata Kota Solo Evi Roekmi menjelaskan, pada tahun ini festival itu berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun lalu, Bengawan Solo Festival lebih menitikberatkan pada pameran dagang dan kegiatan ekonomi lainnya.Dia berharap, nantinya festival yang semuanya berisikan eksplorasi kesenian dan kebudayaan itu dapat menjadi aset wisata yang dapat dijual. "Dari segi kepariwisataan, respons kalangan pelaku wisatawan cukup bagus," kata dia.IMRON ROSYID

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?