Pantun Beton Iwan Abdulrahman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Mengenakan setelan celana panjang warna hitam dengan blazer, Iwan Abdulrahman hadir menyapa penonton di Bentara Budaya Jakarta, Rabu malam lalu. Penyanyi balada yang dikenal pula sebagai pencinta alam dari Grup Wanadri Bandung ini menyuguhkan lagu diselingi cerita kocak seputar perjalanan hidupnya sebagai pencinta alam.Diawali dengan ritual menyanyikan lagu Indonesia Raya, malam itu menjadi malam spesial bagi Iwan. Sebagai "Pemburu Tua", sebutan bagi para penempuh rimba senior, Iwan memanjakan telinga ratusan penonton yang memadati Bentara Budaya Jakarta.Namun, pemburu tua ini tak lagi bergumul dalam konser yang hening dan kontemplatif. Sebaliknya, dia mewarnai konsernya kali ini dengan cerita-cerita kocak sehingga nyaris sepanjang pertunjukan dipenuhi gelak tawa. "Saya terinspirasi oleh Pantun Beton, bernyanyi dan bercerita di dekat api unggun," kata Iwan. Pantun Beton adalah seni tradisional Sunda.Ia pun bernyanyi dan bercerita di panggung seperti di dekat api unggun. Nuansa alam menjadi setting pertunjukan malam itu. Sayang, api unggun atau bentuk tiruannya tak terlihat di atas panggung. Ditemani sepucuk gitar serta empat pohon cemara terbungkus kain hitam, Iwan Abdulrahman memulai dengan lagu Burung Kakatua. "Ini lagu pertama yang saya kuasai ketika dihadiahi gitar oleh nenek saya saat duduk di kelas V sekolah dasar," dia mengenang.Selanjutnya, mengalirlah lagu-lagu, antara lain Anak Tarzan, Melodi Rumpun Bambu, Burung Camar, Lagu Pohon Randu, Melati dari Jayagiri, dan Sejuta Kabut. Setiap lagu tak pernah lepas dari cerita yang dibawakan dengan kocak serta warna Sunda yang sangat khas. Balutan cerita yang dibawakan pada setiap jeda memberikan keleluasaan bagi Iwan untuk merepresentasikan dunia yang selama ini digelutinya.Tidak kurang dari 15 lagu dibawakan Iwan malam itu. Inilah lagu-lagu yang, menurut istilahnya, sangat sarat dengan cinta, terutama tema-tema yang bernuansa alam dan kemanusiaan, seperti lagu Flamboyan dan Melati dari Jayagiri, yang populer saat dinyanyikan Bimbo.Ia juga punya kenangan tersendiri tentang salah satu tembangnya, Burung Camar, yang dipopulerkan Vina Panduwinata dengan centil dan riang. Sebetulnya, menurut Iwan, tembang ini diciptakan bernuansa sedih dan ironi. Seorang nelayan yang ingin memiliki sahabat harus terkatung-katung berhari-hari di lautan.Ia mengatakan, "Banyak yang tidak sadar bahwa lagu ini bukan lagu riang, tapi ironi yang penuh kegetiran."ANDI DEWANTO | DEDEN ABDUL AZIZ

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.