Keluarga Ingin Anggita Sari Direhabilitasi, Ini Kata Polisi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggita Sari memulai karirnya sebagai model saat terpilih sebagai 10 finalis For Him Magazine (FHM) Indonesia Girls Next Door 2011. Ia lahir di Jakarta, 26 Desember 1992. Facebook.com

    Anggita Sari memulai karirnya sebagai model saat terpilih sebagai 10 finalis For Him Magazine (FHM) Indonesia Girls Next Door 2011. Ia lahir di Jakarta, 26 Desember 1992. Facebook.com

    TEMPO.CO, Jakarta – Orang tua Anggita Sari sudah mengetahui putrinya mengkonsumsi narkoba. Mereka pun mengajukan permohonan ke penyidik agar Anggita Sari mendapat rehabilitasi.

    Permohonan tersebut sudah diterima kepolisian dan sedang dipelajari. "Kami pun menanggapi dari permintaan keluarga untuk dilakukan rehabilitasi. Kami sudah dalam proses di-assessment-kan," ucap Kepala Satuan Narkoba Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan Komisaris Vivick Tjangkung kepada wartawan.

    "Hasilnya pun belum kami terima apakah bisa dimasukkan rehabilitasi karena tingkat ketergantungan obat yang dikonsumsi itu sudah cukup lama. Jadi, kami masih menunggu," kata Vivick.

    Vivick menguraikan, Anggita termasuk pengguna narkoba aktif, mengkonsumsi obat-obatan psikotropika selama dua tahun belakangan. 

    "Dia (Anggita) sudah pakai sejak dua tahun lalu, sudah jadi keaktifan dia. Jadi, saat dia membeli, tidak satu-dua butir, tapi satu strip. Kalau begitu, bukan lagi jarang menggunakan," ujar Vivick.

    Model seksi Anggita Sari ditangkap Satuan Narkoba Polres Jakarta Selatan pada Kamis dinihari, 24 November 2016, di kediamannya, Pondok Aren, Tangerang Selatan. 

    Barang bukti saat penangkapan berupa jenis psikotropika, yaitu 14 butir Merlopam, 25 butir Valdimex, 20 butir Calmlet, 3 butir Alprazolam, dan 1 butir Xanax.

    TABLOID BINTANG.COM


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.