Kemo, Julia Perez Tak Punya Uang Berobat ke Singapura

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Selebriti Julia Perez menunjukkan album terbarunya saat peluncuran album The Best Of Julia Perez di kawasan Tugu Tani, Jakarta, 07 Oktober 2016. Album The Best Of Julia Perez dibawah arahan musisi Maia Estianty menghadirkan 7 lagu diantaranya lagu Ku Dapat Dari Emak, Aku mah Gitu, Aku Rapopo dan Belah Duren. TEMPO/Nurdiansah

    Selebriti Julia Perez menunjukkan album terbarunya saat peluncuran album The Best Of Julia Perez di kawasan Tugu Tani, Jakarta, 07 Oktober 2016. Album The Best Of Julia Perez dibawah arahan musisi Maia Estianty menghadirkan 7 lagu diantaranya lagu Ku Dapat Dari Emak, Aku mah Gitu, Aku Rapopo dan Belah Duren. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Saat divonis menderita kanker leher rahim atau kanker serviks, Julia Perez langsung terbang ke Singapura untuk mencari kesembuhan. Setelah beberapa kali pengobatan di salah satu rumah sakit di sana, perempuan yang dipanggil Jupe ini sempat menyampaikan kabar baik: dirinya dinyatakan sembuh.

    Namun penderitaan Jupe ternyata belum berakhir. Sampai saat ini, ia masih harus menjalani kemoterapi guna membunuh sel kanker yang bersarang di tubuhnya.

    "Ya kemo setiap minggu di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo), setiap Rabu. Saya pakai BPJS," kata Jupe saat dijumpai di Perumahan Raffles Hills, Depok, Jawa Barat, Minggu, 20 November 2016.

    Jupe merasa beruntung bisa menggunakan fasilitas BPJS yang disediakan negara. Sebab, pelantun lagu Belah Duren itu mengaku bahwa dirinya sudah tidak punya uang lagi untuk berobat ke luar negeri.

    "Saya udah enggak ada duit lagi. Enggak perlulah ke Jerman. Semua itu atas izin Allah," katanya. Menurut Jupe, obat mahal dan peralatan canggih tak menjamin kesembuhannya. "Semahal apa pun obat, sembuh atas izin Allah juga."

    TABLOIDBINTANG.COM


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.