Rupa Rakyat Kecil

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Si Mbak penjual jamu itu duduk bersimpuh di atas tanah. Kain jaritnya agak turun sehingga pusarnya terbuka. Sedangkan kebayanya yang ketat membuat buah dadanya cenderung menonjol keluar. Dagangan si Mbak yang ditata rapi di tenggok perlahan diturunkan dari gendongan. Sesaat kemudian, sejumlah pria mengerumuninya. Mereka adalah para pekerja bangunan yang menjadi pelanggan jamu. Tangan si Mbak cekatan meracik jamu di gelas dan satu per satu diulurkan kepada para pria itu. Towel... tiba-tiba satu cubitan genit mendarat di pipi si Mbak. Tangan liar lainnya tak mau ketinggalan, menjalar ke lingkar pinggang perempuan seksi itu. Adegan pelecehan seksual itu terangkum dalam Bakul Jamu, lukisan karya Slamet Gondrong. Bertajuk "3 Menguak Rupa", sekitar 40 lukisan Slamet dan dua perupa lain, Sutrisno dan Sukamto, dipamerkan di Hotel Four Season, Jakarta, 27 Juli-4 September 2006. Pameran ini berupaya menguak potret kehidupan masyarakat urban dan pedesaan yang sering terpinggirkan dari perhatian. Kebiasaan menjalani hidup di metropolitan mungkin membuat masyarakat lupa atau bahkan tidak mengetahui bagaimana suasana kehidupan di wilayah urban dan pedesaan. Slamet Gondrong adalah perupa kelahiran Kebumen, 18 Mei 1973, yang tergabung dalam pelukis Pasar Seni Jaya Ancol. Ia menekuni gaya realis dengan distorsi bentuk yang jenaka pada bagian tubuh tertentu, misalnya ukuran hidung atau bibir diperbesar seperti menggambar kartun. Pesan-pesan menarik tersisip di dalam lukisannya. Kritik sosial terangkat secara kuat dan lugas, tapi dikemas dalam bentuk humor menggelitik. Selain pelecehan seksual di dalam Bakul Jamu, kritik pedas meluncur melalui lukisan Pangkalan Minyak. Lukisan ini mengajak kita merenung, bagaimana satu drum minyak tanah yang diperebutkan puluhan warga bisa terjadi di negara yang sudah 61 tahun merdeka. Sedangkan Sutrisno, pelukis asli Yogyakarta, kelahiran 1 Juni 1971, sebenarnya memiliki latar belakang sebagai pembuat wayang. Kemudian ia memutuskan menjadi pelukis dan mengawali kariernya dengan mengikuti pameran seni lukis pelukis muda di Taman Budaya Yogyakarta pada 1991. Dalam pameran ini terlihat karya-karya Sutrisno cenderung merakyat: keceriaan dan optimisme rakyat kecil. Lukisan berjudul Taman Hiburan Rakyat misalnya, memotret fenomena karnaval atau komidi putar keliling yang hidup dari satu kampung ke kampung lain. "Hiburan ini ditunggu-tunggu masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang tidak mampu membeli tiket Dunia Fantasi," ujar Sutrisno. Ada juga Becak Bejo yang mengisahkan kerasnya kehidupan tukang becak. Namun, dia tidak menampilkan sosok tukang becak yang lelah atau murung meratapi nasib, tapi yang "menikmati" menunggu penumpang sambil beristirahat. Optimisme terpancar dari raut wajahnya. Nuansa Jawa terasa kental dalam lukisan Sutrisno. Misalnya lukisan bertajuk Nasi Pecel, Naik Andong, dan Dewi Sri sebagai lambang kesuburan tanah dan pembawa kemakmuran. Bahkan bahasa Jawa dipakainya sebagai judul lukisan Dioyak Asu. Pelukis lain, Sukamto, juga melekatkan identitas kejawaan dalam karyanya. Sebagai orang asli Yogyakarta, ritual-ritual Jawa menjadi inspirasi Sukamto dalam berkarya. Lukisan Rembugan misalnya, menceritakan proses lamaran untuk membicarakan rencana pernikahan atau Slametan sebagai wujud syukur atas kelahiran anak. RETNO SULISTYOWATI

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?