Rey Utami: Kalau Pablo Selingkuh, Semua Hartanya Milik Saya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rey Utami dan suaminya, Pablo Putera Benua. instagram.com

    Rey Utami dan suaminya, Pablo Putera Benua. instagram.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Namanya perempuan, walau dibanjiri hadiah mencapai miliaran rupiah sekalipun, tetap ada rasa khawatir. Bagaimana pun perkenalan Rey Utami dengan Pablo Putera Benua terbilang sangat singkat.

    Apalagi perempuan 29 tahun itu mengaku mengetahui sejarah pernikahan Pablo sebelumnya yang diwarnai perselingkuhan. Maka sebelum memutuskan menikah, Rey menginginkan adanya perjanjian pranikah.

    Baca: Cerita Rey Utami Soal Pablo yang Punya Bisnis di Thailand

    "Kalau sampai selingkuh, maka seluruh harta dia buat saya. Saya pikir, dia akan mundur dengan syarat ini. Ternyata, habis menjadi mualaf itu, dia langsung mengajak ke notaris untuk menandatangani perjanjian pranikah. Sampai sebegitunya," ucap Rey.

    Perjanjian pranikah menjadi tantangan terakhir Rey untuk Pablo. "Sekaligus untuk membentengi saya, kalau terjadi apa-apa. Namanya juga baru kenal. Poin terpenting dalam perjanjian itu ya, tentang selingkuh," ujar presenter olahraga itu.

    Baca: Terungkap, Suami Rey Utami Ternyata Pernah Jadi Sopir Angkot

    Sebelumnya, para wanita di jagat maya dibuat takjub oleh kisah cinta presenter olahraga Rey Utami. Rey Utami mengaku berkenalan dengan pengusaha Pablo Putera Benua lewat aplikasi jodoh Tinder.

    Perkenalan tersebut, menurut Rey Utami, kemudian berlanjut dengan tatap muka. Sehari setelah bertemu untuk kali pertama, Rey Utami pun dihadiahi mobil Honda H-RV oleh Pablo Putera Benua. Pada hari ketujuh, mereka pun menikah.

    Selanjutnya: Bersamaan dengan popularitas...

    Simak Pula

    Komite Munir: Ada Rekaman Pejabat BIN yang Disembunyikan
    Dijadikan Tersangka Korupsi, Dahlan Akan Ajukan Praperadilan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.