Temu Sastrawan Se-Indonesia Ke-3 Digelar di Marabahan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sxc.hu

    Sxc.hu

    TEMPO.CO, Jakarta - Sedikitnya 260-an sastrawan dan budayawan lintas provinsi se-Indonesia berkumpul dalam rangkaian temu kangen dan silaturahmi bertajuk Tifa Nusantara ke-3 di Kota Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

    Mereka berasal dari berbagai penjuru Tanah Air, seperti Aceh, Jawa Timur, Jawa Barat, Maluku, Yogyakarta, Kalimantan Selatan, dan Banten.

    Ketua Pelaksana Tifa Nusantara ke-3 di Barito Kuala, Mahali, mengatakan agenda ini sebagai bentuk penghargaan terhadap pegiat karya sastra puisi sekaligus ajang berbagi ilmu dan pengalaman di antara para seniman dan budayawan.

    Mahali bersyukur Barito Kuala berkesempatan menjadi tuan rumah pertemuan para sastrawan se-Indonesia yang dihelat pada 28-30 Oktober 2016. Sebelum di Barito Kuala, Tifa Nusantara ke-1 dan ke-2 digelar di Tangerang.

    Tifa Nusantara ke-3 diharapkan bisa memberi stimulus positif bagi sastrawan dan budayawan Barito Kuala agar menghasilkan karya lebih berkualitas. “Dan bisa tampil di pentas nasional,” ujar Mahali di sela pembukaan Tifa Nusantara ke-3 di pelataran kantor Bupati Barito Kuala, Jumat malam 28 Oktober 2016.

    Baca:
    Tak Ada Ahok, Balai Kota Sepi dari Aduan Masyarakat
    Demi Orang Tua, Keperawanan Gadis Ini Dilelang Rp 5,2 Miliar
    Hari Pertama Gantikan Ahok, Ini Aktivitas Soni Sumarsono

    Mahali bermaksud mengenalkan Barito Kuala kepada sastrawan nasional. "Mereka bisa berkolaborasi dengan berbagai kesenian yang ada untuk menumbuhkan pengalaman terhadap perkembangan sastra dan budaya di tempat kami,” Mahali menambahkan.

    Bupati Barito Kuala, Hasanuddin Murad, merespons positif gelaran Tifa Nusantara karena bisa menjadi momentum mengangkat nama daerah terpencil ke kancah nasional lewat karya sastra. Menurut dia, sastrawan bisa melihat masih banyak kabupaten-kabupaten yang sebenarnya tertinggal.

    “Orang biasanya akan melek kalau sudah baca karya sastra yang mengangkat daerah terpencil,” kata Murad.

    Penyair asal Bojonegoro, Gampang Prawoto, mengaku antusias mengikuti agenda ini demi berbagi ilmu karya sastra kepada khalayak dan pegiat sastra lain. Menurut Gampang, karya sastra semestinya tidak cuma dibaca oleh seniman. “Tapi bagaimana masyarakat bisa ikut menikmati karya sastra,” ujar pria yang sudah tiga kali ambil bagian dalam Tifa Nusantara itu. "Sekalian cari inspirasi."

    Di bawah rintik gerimis menjelang tengah malam, Tifa Nusantara ke-3 dibuka dengan tarian Dayak “Ritus Bumi” dan pembacaan syair puisi oleh sejumlah penyair kondang, salah satunya penyair asal Barito Kuala: Ibramsyah Amandit dengan judul puisi "Perempuan Itu Bernama Munik". Dalam agenda ini, panitia juga meluncurkan buku kumpulan 300 puisi hasil seleksi dari 1.500-an karya puisi yang masuk.

    DIANANTA P. SUMEDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.