Tak Ada Bunyi Baru

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Solo:Di sebuah malam di awal Juni lalu, I Wayan Sadra (53) menekuri Siwalan, sebuah alat musik tradisional dan sebuah seruling Bali di Solo, Jawa Tengah. Bersama empat rekannya, mereka membuat formasi setengah lingkaran. Asep Saiful Haris dengan kecapi, Misbah memainkan sakuhaci, Doni dengan klarinet, dan Charlot yang kebagian flute. Mereka hendak menyelesaikan garapan terbaru yang hendak diusung ke Festival Seni Surabaya. Tiba-tiba Sadra jatuh terkulai. Sesaat dia memegangi dadanya sebelum dia tak ingat apapun. Teman-temannya melarikan ke rumah sakit. Belakangan diketahui kadar kolestor laki-laki ini melejit. "Saya tak kuat," kata Sadra seusai siuman. Garapan musik yang diberi judul Energi itu adalah konsep baru Sadra dalam bermain musik. Seniman asal Bali yang telah melanglang Jakarta dan kini menetap di Solo itu mendahulukan hitungan yang matematis ketimbang perasaan. Sadra berkeyakinan, musik itu sebenarnya bisa sangat matematis. Artinya, hitungan nada yang dimainkan bisa sesuatu yang pasti. Perasaan bisa dibentuk oleh kepastian nada yang dimainkan. Bukan sebaliknya, perasaan yang mencocokan nada atau irama untuk membuat koposisi seperti yang dilakoni pemusik, terutama tradisi. Saat mengutak-atik hitungan-hitungan nada itu lah emosinya berubah-ubah. Berbulan-bulan, Wong Sabrang, kelompok musik yang dibentuk Sadra mencoba konsep tersebut. Setiap kali keajegan yang dimainkan hendak diubah dengan keajegan lain, selalu memunculkan masalah. "Belum berhasil, karena hitungan ketukan yang kami mainkan sering kali masih terkecoh dengan perasaan sendiri. Logika itu ternyata dipengaruhi oleh perubahan ritmik," ujarnya. Kreatifitas anak petani yang lahir di Banjar Kaliungu Denpasar 1 Agustus 1953 tak diragukan lagi. Dia mendapat penghargaan bergengsi New Horizons Award dari International Society for Art, Sciences and Technology di Berkeley California pada tahun 1991. Dia adalah orang Asia pertama yang meraih penghargaan itu setelah setahun sebelumnya diundang dalam forum Composer to Composer di Colodaro, USA. Karyanya berjudul Daily dianggap milestone, menjadi tonggak sejarah dalam karya musik multimedia. Karya-karya monumental Sadra berderet-deret. Ketika, perupa Hajar Satoto menggelar pameran tunggalnya, Sadra merespon karya Hajar yang diantaranya berupa patung cawan tembaga. Dia membunyikan patung itu dengan kucuran beras, dandang (untuk menanak nasi) tembaga digesek dengan penggesek biola dan rebab, cawan besar dari besi yang dipukul, pipa-pipa patung bahtera ditiup beberapa musisi menimbulkan bunyi lenguhan, dan sebagainya. Sadra memberi judul karya itu Gatra Suara. Sampai kini Sadra masih terus bergerak karena dia tidak ingin hidup dalam satu tempat. Dia meyakini, menjadi seniman itu harus serba bisa meski tak mesti ahli. Sadra sadar, tak ada bunyi baru yang dihasilkan dalam pencariannya selama setengah abad. "Yang ada sesungguhnya hanyalah kesan baru karena pengolahan estetika. Jadi kalau ada musisi yang mengaku menemukan sesuatu yang baru sesungguhnya dia adalah maling yang tak mau mengaku," ujarnya. imron rosyid

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.