Pesan Lewat Piano

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Keceriaan penonton lenyap seketika, berganti dengan hening yang tiba-tiba datang menyelimuti. Denting piano yang dimainkan pianis Belanda, Christiaan Kuyvenhoven, kemudian membawa seisi ruangan untuk mengembara ke alam imajinasi. Di Erasmus Huis Jakarta, Kamis pekan lalu, Christiaan mengakhiri pertunjukan resital pianonya dengan menampilkan karya-karya komposer Franz Liszt. Ini merupakan pertunjukan awal yang disusul dengan pertunjukan serupa di Yogyakarta (5/8) dan Semarang (9/8). Karya-karya Franz Liszt terasa mencekam, mistis, dan magis. Nada rendah cenderung mendominasi dengan sesekali nada tinggi. Satu dari lima komposisi Franz Liszt yang dimainkan adalah Funerailles S-173/7 yang menggugah ingatan kita pada revolusi Hungaria 1849 silam. "Berikut ini untuk mengingatkan kita kepada teman-teman yang sudah meninggal di Hungaria," kata pianis muda itu mengawali permainan sesi terakhirnya. Frans Liszt adalah komponis yang menjadi sumber inspirasi bagi Christiaan. Terlahir di Hungaria, ia termasuk salah satu pianis besar sepanjang masa dan pelopor komposer terbesar di abad 19. Berbagai aransemen orkestra piano dibuatnya dengan warna romantis, impressionis, bahkan karya-karya tanpa nada. Malam itu, pertunjukan Christiaan dibagi dalam empat sesi yang menampilkan karya-karya komposer kelas dunia. Pada sesi pertama, empat komposisi W.A. Mozart diperdengarkan. Dilanjutkan dengan lima komposisi R. Schumann, dan satu komposisi F. Chopin. Tepuk tangan panjang penonton menggema luar biasa di akhir setiap sesi, seolah tak ingin permainan piano berhenti. Christiaan pun membalasnya dengan membungkukkan badan sebagai ucapan terima kasih. Namun, tepuk tangan panjang itu tak segera berhenti sehingga sang pianis pun kesulitan masuk ke sesi berikutnya. Kembali ia membungkukkan badan, berharap tepuk tangan segera diakhiri. Di luar dugaan jumlah penonton membludak melebihi kapasitas ruang pertunjukan. Penonton terus bertambah setiap kali pintu dibuka, pada akhir setiap sesi. I love more people," ujarnya gembira. Christiaan lahir 1 Agustus 1985 lalu. Ia belajar musik klasik sejak usianya masih lima tahun. Awalnya, dia belajar biola sebelum memutuskan untuk menekuni piano. Ia berguru kepada Michail Markov di Konservatorium Twente. Ia juga belajar di Sekolah Musik Van Zweden dan Konservatorium Saxion di Enschede. Christian mengaku menyukai musik klasik karena tingkat kerumitannya yang tinggi. Kerumitan musik klasik, kata dia, bukan hanya terletak pada kesulitan memainkan alat musik tetapi juga menyampaikan pesan dari setiap komposisi yang dimainkan. Soalnya, setiap musik klasik, terutama piano, dimainkan tanpa vokal. Dari sini diharapkan pendengar bisa menangkap pesan hanya melalui nada dan tempo musik. Kendati demikian, bukan berarti Christian tak suka musik jazz atau pop. Cuma, jenis musik itu tidak untuk dimainkan melainkan hanya didengar sebagai pengetahuan dan referensi perkembangan musik. Alasannya, Christian tak ingin kehilangan ikatan batin dengan musik klasik lantaran terbiasa memainkan musik kontemporer. Buah dari ketekunan belajar musik, tahun lalu ia meraih juara III dalam International Franz Liszt Piano Competition ketujuh yang digelar di Utrecht. Untuk pertama kalinya dalam 16 tahun terakhir perjalanan sejarah Belanda, memenangkan kompetisi bergengsi itu. Sebagai penghargaan, ia tampil beberapa kali sebagai pianis konser di dalam dan luar negeri Belanda. Sebelumnya, pada 1998 Christiaan memenangkan Christina Concours di Den Haag. Dua tahun kemudian ia dinobatkan sebagai Young Musical Talent of The Year. retno sulistyowati

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.