Ini Kenapa Elma Theana Ogah Bertemu Reza Artamevia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Elma Theana (kanan) memenuhi panggilan ke kantor Resmob, Polda Metro Jaya di Jakarta, 8 September 2016. Menurut Gatot, senjata miliknya digunakan untuk hobi menembak dan properti film produksinya. ANTARA/Reno Esnir

    Elma Theana (kanan) memenuhi panggilan ke kantor Resmob, Polda Metro Jaya di Jakarta, 8 September 2016. Menurut Gatot, senjata miliknya digunakan untuk hobi menembak dan properti film produksinya. ANTARA/Reno Esnir

    TEMPO.CO, Jakarta - Nama Elma Theana tercantum sebagai saksi dalam bukti laporan Reza Artamevia terhadap Gatot Brajamusti. 

    Elma Theana tidak keberatan dijadikan saksi. Namun, ia belum bersedia jika harus bertemu langsung dengan Reza Artamevia.

    "Saya juga ragu, sudah lama, canggung. Saya belum mau ketemu dulu," ungkap Elma Theana saat dijumpai di Studio Trans TV, Jakarta Selatan, Selasa, 11 Oktober 2016.

    Elma  dan Reza sama-sama pernah berguru pada Gatot Brajamusti. Bedanya, Elma sudah meninggalkan Gatot sejak lima tahun lalu. Sementara, hubungan Reza dengan Gatot baru renggang setelah berbagai kasus di padepokan diungkap polisi.

    Baca: Pencabulan oleh Gatot, Kuasa Hukum Korban Yakin Reza Juga Pelaku

    Sejak keluar dari padepokan, Elma Theana mengaku sama sekali tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Reza Artamevia. Salah satunya karena Reza masih sangat dekat dengan Gatot.

    "Saya nggak mau jadi salah, nanti malah dipikir mau nyerang. Saya keluar lima tahun lalu, bersyukur nggak di sana, sudahlah, hidup saya sudah tenang ya," tukasnya.

    Dugaan praktek ritual seks yang dilakukan Gatot Brajamusti, pendiri Pedepokan Brajamusti, sedikit demi sedikit mulai terkuak. Kepolisian Daerah Metro Jaya mengatakan saksi Reza Artamevia dan Elma Theana mengetahui ritual pesta seks yang sering dilakukan Gatot, tersangka kasus narkoba, terhadap korbannya.

    "Aa Gatot (panggilan Gatot) memperdayai korbannya dengan sabu-sabu, kemudian melakukan pesta seks," ucap Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Awi Setiyono di markasnya, Selasa, 27 September 2016.

    Awi mengatakan pesta seks diduga telah dilakukan Aa Gatot selama sembilan tahun pada 2007-2016.

    Simak: Inilah 5 Saksi Kunci yang Lihat Pesta Seks Gatot Brajamusti

    Reza juga membenarkan bahwa selama ini perilaku Gatot menyimpang. Hal ini juga dibenarkan Elma, yang sempat menjadi asisten pribadi Gatot, dan sejumlah saksi lain, termasuk korban. "Untuk memperdayai korban, Gatot memulai dengan mengisap sabu, termasuk dengan saksi dan korban," ucap Komisaris Besar Awi.

    Saat ini Awi berfokus mencari alat bukti tambahan terkait dengan kasus tersebut. Gatot juga dijerat kasus lain, di antaranya sebagai pemakai sabu-sabu, memiliki senjata api ilegal, memelihara satwa langka dilindungi, dan mencabuli sejumlah perempuan. Polisi masih mengembangkan kasus pencabulan dan akan memeriksa beberapa saksi lagi.

    Asisten rumah tangga pendiri Pedepokan Brajamusti, Gatot Brajamusti, mengaku pernah melihat Gatot melakukan ritual seks bersama sejumlah perempuan. Pengakuan ini dibeberkan juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Awi Setiyono di kantornya, Selasa, 27 September 2016.

    Menurut Awi, bahkan asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Gatot itu mengaku pernah mengintip saat Gatot menggelar pesta seks. Saat ini, kata Awi, kepolisian baru mendapat dua laporan korban pemerkosaan yang diduga dilakukan Gatot. "Polisi masih membuka kemungkinan adanya korban lain," ucap Awi.

    Simak juga: Asisten Aa Gatot Pernah Intip Ritual Seks, Ini yang Terjadi

    Adanya ritual seks yang diamalkan Gatot, ujar Awi, juga diakui saksi Reza Artamevia dan Elma Theana. Mereka mengaku mengetahui ritual pesta seks yang sering dilakukan Gatot terhadap korbannya. "Aa Gatot memperdayai korbannya dengan sabu-sabu, kemudian pesta seks," tutur Awi.

    TABLOIDBINTANG.COM


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Macam Batal Puasa

    Ada beberapa macam bentuk batalnya puasa di bulan Ramadan sekaligus konsekuensi yang harus dijalankan pelakunya.