3 Modus ini Digunakan Gatot Brajamusti Menjerat Korbannya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aa Gatot Brajamusti. facebook.com

    Aa Gatot Brajamusti. facebook.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Gatot Brajamusti, pendiri Padepokan Brajamusti, mendapatkan murid dengan cara dan jalur yang berbeda-beda. Mereka yang bergabung masuk padepokan Gatot di Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat, itu mempunyai alasan berbeda-beda. Berikut ini 3 cara yang digunakan Gatot untuk menarik orang mau menjadi muridnya.

    1. Pendekatan Keluarga

    Elma Theana mengenal Gatot Brajamusti melalui kakaknya, Rency Milano. Gatot merupakan teman dari suami Rency. Rency tidak ikut bergabung dalam padepokan Gatot, seperti yang dilakukan Elma.

    Selama menjadi murid Gatot, Rency mengatakan Elma menjauh dari keluarga. Kepribadiannya pun, kata Rency, menjadi berbeda. Setelah sekitar empat tahun lalu lepas dari Gatot, ia mengaku bersyukur.

    Baca: 3 Cara Gatot Mengelabui Korbannya Lewat Ritual Pakai Sabu

    "Dulu dia (Elma) kayak tersihir. Empat tahun lalu dia putuskan keluar dan tak pernah kembali lagi ke padepokan," kata Rency dalam tayangan Go Spot di RCTI, Kamis, 1 September 2016, seperti dikutip dari Tabloidbintang.com.

    Elma mengaku akhirnya memutuskan keluar dari padepokan Gatot karena menemukan banyak kejanggapan pada diri Gatot. "Saya tinggalkan (padepokan) enggak izin. Main pergi gitu aja. Saya mau hidup normal-normal aja sebagai manusia. Enggak mau yang gaib-gaib, deh," ujarnya dalam video pengakuan yang diunggah di YouTube.


    2. Jalur Pertemanan

    Reza Artamevia bergabung ke Padepokan Brajamusti pada 2004 tidak lepas dari campur tangan Elma Theana. Ketika itu, Reza yang sedang mempunyai masalah rumah tangga dengan almarhum Adjie Massaid, sempat diberitakan hilang di bandara dan akhirnya muncul di padepokan Gatot.

    Baca: Inilah 5 Saksi Kunci yang Lihat Pesta Seks Gatot Brajamusti

    Kakak Elma, Rency Milano, mengatakan adiknya sempat mengatakan soal bergabungnya Reza ke padepokan milik Gatot. "Iya, dia (Elma) memang bilang kalau Reza yang bawa dia. Dia bawa Reza katanya juga disuruh Gatot, disuruh bawa ke situ," ujar Rency, 1 September 2016.

    Berbeda dengan Elma, yang akhirnya meninggalkan padepokan Gatot, Reza tetap bersama Gatot. Bahkan, Reza ikut tertangkap polisi dalam kasus narkoba bersama Gatot di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 28 Agustus lalu. Reza akhirnya dibebaskan.


    3. Diorbitkan Jadi Artis

    Perempuan berinisial CT mengaku tertarik bergabung masuk padepokan Gatot karena ditawari menjadi backing vocal-nya Gatot. Ketika itu, tahun 2007, CT yang menekuni profesi sebagai penyanyi, belum genap berusia 17 tahun.

    "CT punya manajemen, kemudian ditawari untuk menjadi backing vocal-nya Aa Gatot," kata kuasa hukum CT, Sudharmono Saputra, di Polda Metro Jaya, 9 September 2016.

    Menurut Sudharmono, CT menerima tawaran itu dengan senang hati. Apalagi, kata dia, ketika itu nama Gatot tengah populer karena Reza menjadi salah satu muridnya. CT, lanjut Sudharmono, berharap lewat Gatot cita-citanya menjadi penyanyi terkenal bisa tercapai.

    Baca: Gatot Diduga Perkosa CT di Hotel, Polisi Lakukan Pelacakan

    Namun, harapan CT ternyata tak pernah terwujud. Gatot malah menjejalinya dengan narkoba dan memperkosanya. CT kerap diminta untuk menari bugil saat Gatot memainkan piano. "Kejadian ini berulang terus," katanya.

    CT memutuskan keluar dari padepokan Gatot saat hamil yang kedua di tahun 2011. Setahun kemudian, dia melahirkan bayinya. CT kemudian mengadukan Gatot dengan tuduhan melakukan pemerkosaan ke Polda Metro Jaya pada 9 September 2016.


    AVIT HIDAYAT | EGY ADYTAMA | TABLOID BINTANG

    Baca Juga:
    Isu Selingkuh Raffi - Ayu Ting Ting Sengaja Dibuat demi Ini?
    Dimas Kanjeng dan Peti Ajaib Pengganda Uang, Isinya...


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.