Sejumlah Tokoh Berduka untuk Musikus Albert Warnerin

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Musikus Albert Warnerin pada Senin, 22 Agustus 2016, tutup usia. Gitaris grup musik Giant Step itu dikabarkan meninggal sekitar pukul 22.00. Sejumlah tokoh lantas menyampaikan ucapan belasungkawa melalui Twitter.

    “RIP Albert Warnerin (Giant Steps, The Philosophy Gang of Harry Roesli). Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya,” ujar Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf dalam akun Twitter-nya, Senin, 22 Agustus 2016. Triawan merupakan salah satu punggawa Giant Step pada era 1980-an.

    Ucapan dukacita tidak hanya datang dari aparat pemerintah. Netizen ramai di mencuitkan ungkapan dukacita via Twitter. Pemilik akun @kemalmaharsa mengatakan Albert meninggal pukul 21.15. “Mohon dimaafkan segala salahnya.”

    Albert memiliki peranan penting dalam perjalanan kelompok Giant Step, yang berdiri pada awal 1970-an. Albert ikut dalam ritme naik-turun grup beraliran progressive rock asal Bandung tersebut. Ia berperan penting ketika Giant Step mulai masuk dapur rekaman pada 1976, yakni saat band itu melahirkan album Giant Step Mark-I. Karena peran besar Albert dan Benny, keduanya kerap disebut sebagai roh grup itu.

    Albert, seperti halnya Benny, mahir memetik gitar sekaligus menulis lagu. Mereka produktif. Enam album telah dibuat bersama Giant Step hingga 1980. Namun kelompok ini vakum sekitar 5 tahun.

    Benny mencoba membangkitkan Giant Step pada 1985. Albert kembali masuk ke formasi bersama Triawan Munaf, Erwin Badudu, serta Jelly Tobing. Pada saat itu mereka membuat album Geregetan. Pada akhirnya, pada 1992, Benny dan Albert tak bisa mempertahankan kelompok Giant Step.

    Albert juga terlibat banyak proyek musik kelompok-kelompok musikus Bandung. Satu di antaranya Gang of Harry Roesli.

    DANANG FIRMANTO

     





     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.