Mimpi ke Festival Zappanale

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Sebatang rokok disedot, pelan tapi dalam. Kemudian napas panjang diembuskan. Asap pun mengepul memenuhi ruang kerja Iwan Hasan--komponis, gitaris, konduktor, sekaligus orkestrator. Seolah belum puas, ia menyedotnya sekali dan sekali lagi, hingga tuntas satu batang habis. Personel kelompok band beraliran progressive rock, Discus, ini memang tengah gundah. Impiannya untuk mengikuti festival Zappanale di Jerman, pertengahan bulan ini, terhambat masalah dana. Penggalangan dana pun dilakukan, antara lain dengan melibatkan para penggemarnya. "Sebenarnya kami sudah mendapatkan donatur, tapi masih kurang. Ini yang susah dicari. Kami masih mencari sponsor tambahan," ujarnya di Jakarta kemarin. Festival Zappanale adalah festival akbar bergengsi sejagat yang didedikasikan kepada almarhum komponis Frank Zappa, yang telah menjembatani klasik kontemporer dengan rock dan jazz. Untuk pertama kalinya dalam 17 tahun sejarah Zappanale, Discus satu-satunya kelompok musik dari Asia yang diundang sebagai headliner. Belasan peserta lain, kelompok musik asal Amerika dan Eropa, menyingkirkan 50-an kandidat lain yang mengikuti seleksi calon peserta. Dalam festival yang diperkirakan bisa menyedot 10 ribu penonton itu akan tampil juga bekas anggota ensambel Frank Zappa serta bekas anggota kelompok Zappa yang sekarang menjadi gitaris, King Crimson. Discus dijadwalkan tampil persis sebelum mereka. Ini akan menjadi pengalaman keempat Discus manggung di festival berskala internasional, setelah di North Carolina, Amerika Serikat (2000), Meksiko (2001), dan Swiss (2005). Perjalanan ke festival Zappanale, Iwan bertutur, bermula ketika Discus menggelar konser tunggal di Duisburg, Jerman, tahun lalu. Seorang eksekutif Zappanale menyempatkan diri menonton meski harus menempuh perjalanan darat sekitar delapan jam. "Dari situ mungkin mereka menilai bahwa kami memang layak untuk tampil di festival itu," katanya. Persiapan menuju Jerman telah dilakukan. Rencananya, Discus akan berkolaborasi dengan penyanyi bersuara jazzy, Andien. Ini bukan yang pertama kali. Jebolan Elfa's Secioria itu telah beberapa kali bekerja sama dengan Discus. Namun, Iwan melanjutkan, bila pengumpulan dana molor, impian mengikuti festival Zappanale bisa melayang. Tapi bukan berarti keberangkatan ke Jerman dibatalkan. Discus tetap akan terbang ke negeri yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2006 itu untuk mengikuti festival lainnya. Tiga festival besar memang akan digelar di sana. Festival Zappanale diselenggarakan pada 13 Juli, sedangkan dua festival lain pada 23 dan 29 Juli. "Ikut festival Zappanale itu sama seperti PSSI ikut final Piala Dunia, tingkat kebanggaannya tinggi. Benar-benar kualitas yang dinomorsatukan. Artinya, kalau sampai batal mengikutinya, kami sangat kecewa," katanya. Menurut Iwan, lebih banyak ngamen di mancanegara bukan target utama Discus. Grup musik progresif ini sebenarnya ingin seperti musisi lain, diterima di negeri sendiri. Tapi kenyataan berkata lain. Aliran musik Discus sulit diterima di Indonesia. Alhasil, pada 1996-1999 Discus hanya manggung lima kali. Itu pun di kafe-kafe kecil. "Orang pada pergi semua pas kami main. Saat itu, kalau ada 20 orang penonton saja, sudah syukur. Beda dengan di Swiss, orang-orang bisa menyanyikan intro lagu kami yang berbau etnik," dia mengeluh. Tapi kondisi mulai bergeser. Perlahan penggemar Discus bermunculan, terutama penggemar progressive rock, musik klasik rock, jazz, dan musik dunia. Kendati demikian, bukan berarti Iwan tak bisa mengikuti aliran musik pop. Anda suka lagu Demi Waktu-nya Ungu? Dalam lagu itu, putra mantan Menteri Pendapatan Pembiayaan dan Pengawasan era Presiden Sukarno, Mohamad Hasan, itu menggarap piano dan aransemen orkestranya. "Jadi sekali waktu, kalau diminta membuat orkes untuk lagu pop, saya bisa," ujarnya. Kakak kandung Maya Hasan itu banyak dikenal sebagai pemain 21 string harpguitar (21 senar gitar harpa). Ia kuliah musik di Willamette University Salem, Oregon, Amerika Serikat, karena sangat terinspirasi oleh tiga profesor musik, yakni John Peel (komposisi klasik kontemporer), John Doan (gitar klasik dan harpguitar), serta Martin Bahnke (jazz improvisation). l RETNO SULISTYOWATI

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?