Setelah Titarubi dan Ade, Eddy Susanto ke Singapore Biennale

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pengunjung mengamati lukisan karya Eddy Susanto bertajuk,

    Sejumlah pengunjung mengamati lukisan karya Eddy Susanto bertajuk, "The Passage of Panji: Memory, Journey and Desire" pada Pameran tunggalnya di Lawangwangi Creative Space, Bandung, Jawa Barat (3/5). 20 lukisan ini bisa berubah gambarnya di bawah lampu ultraviolet. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Tiga seniman Indonesia terpilih berpartisipasi dalam agenda seni dua tahunan, Singapore Biennale 2016 di Singapura. Titarubi, menjadi seniman Indonesia yang terpilih sejak awal peluncuran acara ini. Setelah itu ada Ade Darmawan pada gelombang kedua dan kini seniman Yogyakarta, Eddy Susanto juga terpilih oleh dewan kurator.

    Acara Singapore Biennale ini diselenggarakan oleh Singapore Art Museum (SAM). Rencananya helatan ini akan digelar 27 Oktober 2016-26 Februari 2017 di beberapa lokasi di Singapura. Rencananya sebanyak 60 seniman akan ambil bagian dalam acara ini. SAM juga akan telah mengeluarkan daftar 11 karya yang akan dipamerkan dalam acara ini.

    Sedangkan untuk nama seniman pada periode ketiga ini adalah Noor Azizan Rahman Paiman (Malaysia), David Chan ( Singapore), Eddy Susanto (Indonesia), Dex Fernandez (Filipina), Munem Wasif  (Bangladesh), Ni Youyu (China), PannaphanYotmani (Thailand), dan  Phasao Lao serta  Tcheu Siong (Laos).

    Para seniman yang terpilih didasarkan pada karya-karya mereka yang telah lalu dan dipilih sesuai dengan tema acara yang bertema An Atlas or Miror. “Mereka diundang  oleh tim kurator setelah diskusi panjang dan melihat karya para seniman yang sesuai dengan tema dan judul acara,” demikian dalam siaran pers yang diterima Tempo.

    Tim Kurator yang terlibat dalam pemilihan seniman ini adalah Susie Lingham (Direktur Kreatif), Tan Siuli (kurator SAM), Joyce Toh, Louis Ho, Andrea Fam dan John Tung. Mereka juga dibantu oleh empat asisten kurator lainnya.

    Para seniman yang diundang ini adalah seniman yang telah cukup mapan dan sedang berkembang dari kawasan Singapura, Cina, Hongkong, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Sri Lanka , Thailand dan Vietnam. Mereka akan mempersembahkan karya mereka yang dibuat dari berbagai medium.

    Eddy Susanto, seniman asal Yogyakarta. Pada acara Art Stage Jakarta baru-baru ini, Eddy memamerkan karya terkait sejarah badak di tanah Jawa. Dia membuat karya patung badak putih dan di sekujur badannya terdapat cerita asal-usul badak dengan huruf Jawa yang ditulis dengan canting (alat untuk membatik). Dalam ruang gelap, tulisan huruf Jawa itu terlihat bersinar. Selain itu dia juga melukis sosok-sosok dari suatu kerajaan yang ingin mempersembahkan badak itu kepada paus. Dalam satu bidang, terdapat dua lukisan, salah satunya dilukis dengan cat mengandung fosfor.

    DIAN YULIASTUTI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.