Setelah Sang Bayi Pergi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Ulang tahun ke-67 kali ini bagi Harry terasa istimewa. Kedua anak gadisnya, Marie dan Ninni, memberi kado indah bagi lelaki tua itu. Mereka akan memberi cucu yang lama diidamkan. Suasana ceria mewarnai kediaman Harry. Marie dan Ninni bersama suami mereka, Erik dan Jonas, merayakan ulang tahun Harry dalam acara makan siang bersama. Sampanye, makanan lezat, serta rangkaian bunga menawan menghiasi hari bahagia itu. Sayang, ketika hari beranjak senja, tiba-tiba Marie, sang putri tertua, merasakan kelainan pada kandungannya. Ia tak dapat merasakan gerakan sang jabang bayi. Karena khawatir, kedua pasangan ini pun segera pergi ke rumah sakit. Setibanya di sana, kekhawatiran Marie pun mereda. Berkat alat bantu, kedua pasangan itu dapat mendengar detak jantung sang jabang bayi. Suami Ninni, Jonas, juga meminta sang istri melakukan pemeriksaan serupa. Meski semula menolak, Ninni akhirnya bersedia. Hasilnya sangat mengejutkan: bayinya telah meninggal dalam kandungan. Alhasil, bayi Jonas dan Ninni pun harus segera dikeluarkan dari rahim. Sementara itu, dalam waktu bersamaan, air ketuban Marie pecah dan ia pun melahirkan bayi laki-laki yang montok dan sehat. Kehilangan bayi dan memperoleh anggota keluarga baru memberi konflik dalam hubungan kedua saudara. Marie, yang merasa bersalah karena memiliki anak, tak tahu harus menentukan sikap di hadapan Ninni. Sedangkan Ninni, yang jatuh dalam kubangan depresi, mulai bersikap aneh terhadap bayi Marie. Peristiwa ini pun akhirnya memunculkan kembali kepingan-kepingan trauma masa lalu yang terus menghantui mereka. Konflik psikologis yang mengaduk-aduk emosi penonton disuguhkan secara apik dalam film Harry's Dottar (Harry's Daughter). Film garapan sutradara Swedia, Richard Hobbert, ini mengingatkan penonton pada sentuhan sineas besar Swedia, Ingmar Bergman. Bergman terkenal gemar menggarap film-film drama yang pekat dengan konflik psikologis. "Bergman memang sineas besar yang layak dikagumi," kata Hobbert seusai pemutaran filmnya itu dalam acara Festival Film Swedia di Jakarta, Rabu lalu. Ketegangan demi ketegangan terus mencekam hingga menit-menit terakhir. Hobbert, yang juga menulis naskah film ini, begitu piawai meliukkan gaya bercerita. Akhir cerita pun tak dapat ditebak dengan mudah. Dalam beberapa adegan bahkan tak terlalu jelas apakah Marie berhalusinasi atau benar-benar tengah berkomunikasi dengan Ninni. Hobbert tak lupa menampilkan alam Swedia yang indah di musim gugur. Permainan apik Lena Endre dan Amanda Ooms sebagai Marie dan Ninni makin memperkuat film ini. Meski dibuat dengan biaya minim, sekitar US$ 1,5 juta, film ini mampu memberi makna mendalam. Jauh hingga ke dalam relung hati untuk waktu yang cukup lama. "Bila Anda tak lagi cinta kepada pasangan, bercerai bisa jadi satu jawaban. Tapi apa jadinya bila Anda bermasalah dengan keluarga kandung sendiri? Anda kan tak bisa bercerai dengan mereka," kata Hobbert, yang pernah menjadi penerima penghargaan Ingmar Bergman ini. Dan agaknya persoalan dalam film ini tak lepas dari pengalaman Hobbert sendiri. "Saya juga pernah kehilangan anak. Saat itu, pertanyaan 'mengapa saya (yang mengalami peristiwa itu)' juga muncul berulang-ulang dalam benak saya." l SITA PLANASARI A

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.