28 Lukisan Koleksi Istana Akan Dipamerkan di Galeri Nasional

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pameran lukisan Raden Saleh dan awal seni lukis Indonesia di Galeri Nasional, Jakarta, Senin(4/6). TEMPO/Dwianto Wibowo

    Pameran lukisan Raden Saleh dan awal seni lukis Indonesia di Galeri Nasional, Jakarta, Senin(4/6). TEMPO/Dwianto Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta -Sebanyak 28 lukisan koleksi Istana Kepresidenan akan dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, sepanjang 1-30 Agustus 2016. Masyarakat dapat melihat semua lukisan ini tanpa dipungut biaya.

    Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengatakan, selain untuk menyambut  ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-71, pameran ini merupakan bentuk penghargaan pemerintah kepada para pelukis terbaik Indonesia. "Ini pertama kalinya lukisan milik istana dibawa keluar dan dipamerkan," kata Pratikno di Kantor Sekretaris Negara, Jakarta, Senin, 25 Juli 2016.

    Di sisi lain, lanjut Pratikno, pemerintah ingin agar masyarakat luas bisa
    menikmati koleksi lukisan-lukisan yang selama ini hanya dipajang di Istana
    Kepresidenan Jakarta, Bogor, Cipanas, dan Yogyakarta. "Banyak koleksi
    lukisan Istana yang hebat. Semoga beri inspirasi," ucapnya.

    Pameran yang mengambil tema 17/71: Goresan Juang Kemerdekaan ini menampilkan  lukisan terkenal dari Raden Saleh, Affandi, Sudjojono, Basoeki Abdullah, dan Dullah.

    Selain karya anak bangsa, ada juga lukisan yang berasal dari pelukis asing,
    seperti Rudolf Bonnet dan Diego Rivera.

    Pengunjung juga dapat menikmati lukisan karya Presiden Soekarno yang berjudul Rini. Lukisan itu dibuat Soekarno pada 1958.

    Berikut ini daftar koleksi lukisan Istana Kepresidenan yang akan dipamerkan:

    1. Affandi, Laskar Rakyat Mengatur Siasat, 1946
    2. Affandi, Potret H.O.S. Tjokroaminoto, 1946
    3. Basoeki Abdullah, Pangeran Diponegoro Memimpin Perang, 1949
    4. Dullah, Persiapan Gerilya, 1949
    5. Harijadi Sumadidjaja, Awan Berarak Jalan Bersimpang, 1955
    6. Harijadi Sumadidjaja, Biografi II di Malioboro, 1949
    7. Henk Ngantung, Memanah, 1943 (reproduksi orisinal oleh Haris Purnomo)
    8. Kartono Yudhokusumo, Pertempuran di Pengok, 1949
    9. Raden Saleh, Penangkapan Pangeran Diponegoro, 1857
    10. S.Sudjojono, Di Depan Kelambu Terbuka, 1939
    11. S. Sudjojono, Kawan-kawan Revolusi, 1947.
    12. S. Sudjojono, Markas Laskar di Bekas Gudang Beras Tjikampek, 1964
    13. S. Sudjojono, Mengungsi, 1950
    14. S. Sudjojono. Sekko (Perintis Gerilya), 1949
    15. Sudjono Abdullah, Diponegoro, 1947
    16. Trubus Sudarsono, Potret R.A. Kartini, 1946/7
    17. Gambiranom Suhardi, Potret Jenderal Sudirman, 1956
    18. Soerono, Ketoprak, 1950
    19. Ir. Sukarno, Rini, 1958
    20. Lee Man-Fong, Margasatwa dan Puspita Nusantara, 1961
    21. Rudolf Bonnet, Penari-penari Bali sedang Berhias, 1954
    22. Hendra Gunawan, Kerokan, 1955
    23. Diego Rivera, Gadis Melayu dengan Bunga, 1955
    24. Miguel Covarrubias, Empat Gadis Bali dengan Sajen, sekitar 1933-1936
    25. Walter Spies, Kehidupan di Borobudur di Abad ke-9, 1930
    26. Ida Bagus Made Nadera, Fadjar Menjinsing, 1949
    27. Srihadi Soedarsono, Tara, 1977
    28. Mahjuddin, Pantai Karang Bolong, tahun tak terlacak (sekitar 1950an)
    Sumber: Istana Kepresidenan



    ADITYA BUDIMAN


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.