Minggu, 18 November 2018

Penduduk Tolak Rencana Pembuatan Film Horor Gunung Kawi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Panorama Kota Batu dengan latar belakang gunung Panderman dan Gunung Kawi di lihat dari atas gunung Banyak, Desa Songgokerto, Batu, Jawa Timur, 4 Juli 2015. Kota Batu merupakan kota di provinsi Jawa Timur yang terletak 15 km sebelah barat Kota Malang dan 98 km sebelah barat daya Kota Surabaya. TEMPO/Aris Novia HIdayat

    Panorama Kota Batu dengan latar belakang gunung Panderman dan Gunung Kawi di lihat dari atas gunung Banyak, Desa Songgokerto, Batu, Jawa Timur, 4 Juli 2015. Kota Batu merupakan kota di provinsi Jawa Timur yang terletak 15 km sebelah barat Kota Malang dan 98 km sebelah barat daya Kota Surabaya. TEMPO/Aris Novia HIdayat

    TEMPO.CO, Malang - Warga Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur  menolak rencana pembuatan film berjudul Gunung Kawi. Film bergenre horor komedi itu dibuat oleh rumah produksi Digital Film Media, yang beralamat di Jalan Tebet Timur Dalam II/3, Jakarta Selatan.

    Menurut Juru Kunci Pesarean Gunung Kawi Tjandra Jana, selain ditolak warga, keluarga besar pengelola atau juru kunci pesarean Eyang Jugo alias Kiai Zakaria ikut menolak syuting film yang direncanakan berdurasi 90 menit itu. “Warga kami resah karena di sini ada makam aulia (orang suci), wali, dan pelaku syiar Islam,” katanya, Senin, 18 Juli 2016.

    Jana menjelaskan, cerita film yang disutradarai Nayato Fio Nuala itu dinilai melecehkan keberadaan pesarean Gunung Kawi karena digambarkan sebagai tempat pesugihan yang lekat dengan kegiatan klenik untuk mencari kekayaan dan jodoh. Citra negatif ini tergambar dalam sinopsis film yang direncanakan berdurasi 90 menit. Film tersebut dinilai tidak sesuai dengan fakta dan sejarah keberadaan pesarean Gunung Kawi.

    Jana mengetahui rencana pembuatan dan sinopsis film Gunung Kawi dari keponakannya pada Kamis pekan lalu. Sang keponakan sedang berada di sebuah hotel di Malang dan menerima tamu dari Jakarta. Si tamu kemudian bercerita akan menggarap film Gunung Kawi. Jana dan beberapa kawan lalu mencari informasi lebih lengkap terkait pembuatan film itu, termasuk sinopsisnya. Caranya dengan membuka website rumah produksi pembuat film itu.

    Dari website itu semakin jelas gambaran apa yang mereka buat tentang Gunung Kawi. “Informasi itu kami teruskan ke kepolisian dan pemerintah desa. Lalu dibuat keputusan pada Sabtu pekan lalu untuk menolak pembuatan film itu,” ujar Jana.

    Jana menegaskan, hingga kini warga menolak rencana kedatangan rombongan kru film untuk mengambil gambar di lokasi pesarean maupun di keraton Gunung Kawi. Rencananya, rombongan kru film akan tiba di Gunung Kawi pada 21 Juli 2016.

    Pada Selasa, 19 Juli 2016, Tempo berupaya menghubungi kembali Jana. Tempo ingin mengetahui apakah keluarga besar Juru Kunci Pesarean Gunung Kawi sudah dihubungi oleh mereka yang terlibat dalam pembuatan film itu. Namun, tiga kali dihubungi,  teleponnya tidak diangkat.

    Proses produksi di Kabupaten malang akan dikerjakan mulai Juli sampai Agustus setelah kegiatan syuting pertama di wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi selesai pada Mei lalu. Ditargetkan seluruh proses produksi rampung pada Agustus sehingga bisa ditayangkan di layar bioskop pada 2016 atau tahun depan.

    Sinopsis film dibuat Erry Solid. Dalam sinopsis digambarkan Gunung Kawi menjadi tempat praktek pesugihan sekaligus tempat persekutuan manusia dengan makhluk gaib, seperti hantu dan tuyul. Ada penyebutan krupuk tuyul di dalam sinopsis. Selain itu, sosok Mbah Kawi digambarkan sebagai sosok angker.

    Digambarkan pula pohon dewandaru yang ada di lokasi pesarean merupakan lokasi paling mustajab bagi siapa pun yang ingin melakukan meditasi maupun bertapa sebagai proses lelaku pesugihan yang diinginkan. Lalu digambarkan jin Gunung Kawi murka dan meneror orang mencuri daun dewandaru.

    Kepala Desa Wonosari Kuswanto mengatakan rencana pembuatan film itu belum dilaporkan kepada pihaknya. Mereka yang terlibat dalam pembuatan film juga belum menemuinya untuk kulonuwun maupun meminta izin. “Seharusnya mereka tahu Gunung Kawi tempat yang kami sakralkan,” ucapnya.

    Film Gunung Kawi dibintangi aktor senior Roy Marten (yang memerankan tokoh Drajat), Indra Birowo (Sarwono), Yoes Astawan (Mbah Kawi), serta beberapa pendatang baru, seperti Roro Fitria (Roro), Lawra Incha (Bella), Shalimar Malik (Shalimar), Jordi Onsu (Vieuw), Ryan Wijaya (Rian), Reymon Knuliqh (Jono), Maxime Bouttier (Adit), Yova Gracia (Indah), dan Laras Syerinta (Rebecca). Seluruh artis berada dalam naungan Headline and Stage Management.

    Pembuatan film diproduseri Shanker R.S, pemilik Indika Entertainment. Perusahaan pembuat film ini kerap memproduksi film bergenre horor.

    Diminta tanggapannya, Sekretaris Direksi Digital Film Media Iyusnika Anela Sianturi mengaku belum mengetahui adanya penolakan warga Wonosari terhadap film Gunung Kawi. Dia hanya mengatakan segera menyampaikan hal itu pada bosnya.

    ABDI PURMONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.