Lukisan Koleksi Soekarno di Istana Kepresidenan Dipamerkan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lukisan berjajar di dinding Museum Dullah, yang berada di Jl Cipto Mangun Kusumo ,Solo 7 Maret 2015. Mendiang Dullah merupakan perupa yang pernah menjadi, pelukis istana dan salah satu seniman kepercayaan Presiden Soekarno. Ahmad Rafiq/Tempo

    Lukisan berjajar di dinding Museum Dullah, yang berada di Jl Cipto Mangun Kusumo ,Solo 7 Maret 2015. Mendiang Dullah merupakan perupa yang pernah menjadi, pelukis istana dan salah satu seniman kepercayaan Presiden Soekarno. Ahmad Rafiq/Tempo

    TEMPO.CO, Jakarta - Istana Kepresidenan  akan menggelar pameran lukisan bersejarah koleksi Istana Kepresidenan. Pameran bertajuk "17/71: Goresan Juang Kemerdekaan" ini menampilkan karya para pelukis kondang dan maestro seni rupa Indonesia. Digelar di Galeri Nasional sepanjang Agustus 2016 mendatang.

    Untuk pertama kalinya masyarakat bisa menyaksikan  28 lukisan terpilih hasil karya 21 pelukis dan sekitar 100 koleksi foto-foto kepresidenan. Pameran ini merupakan bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71 dan dikuratori  Mikke Susanto dan Rizki A. Zaelani.

    Sejumlah lukisan yang digelar itu antara lain karya Raden Saleh, Affandi, S. Sudjojono, Basoeki Abdullah, dan Dullah--para pelukis Istana pada era Presiden Sukarno. Ada pula karya pelukis asing seperti Rudolf Bonnet dan Diego Rivera.

    "Masyarakat juga dapat menikmati lukisan karya Presiden Sukarno sendiri yang berjudul Rini yang dilukisnya pada 1958," ujar Bey Machmudin,Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden dalam siaran persnya, Selasa,12 Juli 2016.

    Bey juga mengatakan koleksi yang dipamerkan ini merupakan sebagian kecil koleksi yang tersimpan di beberapa Istana Kepresidenan Indonesia. Antara lain Istana Kepresidenan di Jakarta, Bogor, Cipanas, Yogyakarta, dan Tampaksiring-Bali.

    Di sana tersimpan lebih dari 3.000 lukisan yang telah melalui proses kuratorial pada 2009-2010." Di antara koleksi itu, ada banyak karya legendaris yang merupakan bagian dari tonggak sejarah, tak hanya kesenian, melainkan juga Republik Indonesia," ujarnya.

    Koleksi ini bermula dari keinginan Presiden Soekarno yang dikenal memiliki selera seni sangat tinggi. Tak heran jika sebagian koleksi itu adalah hasil upaya Presiden Soekarno sendiri, yang tak segan langsung berbelanja ke berbagai galeri atau sanggar seni. Sebagian lukisan itu juga buah tangan dari pemimpin negara-negara lain saat berkunjung ke Indonesia.

    Presiden Joko Widodo menyambut baik penyelenggaraan pameran ini. Istana adalah milik rakyat dan sungguh indah jika masyarakat luas juga sesekali dapat menikmati koleksi karya seni terbaik itu melalui pameran yang terbuka untuk umum.
    "Karya cipta yang bernilai begitu tinggi ini harus dilestarikan," ujar Presiden.

    Pameran ini merupakan salah satu wujud pertanggungjawaban Istana Kepresidenan yang mendapatkan amanah untuk merawat koleksi-koleksi terbaik itu. “Saya ingin lukisan-lukisan ini akan tetap abadi dan terus menerus bisa disajikan di hadapan publik seluruh dunia.”

    Berikut ini koleksi lukisan Istana Kepresidenan yang akan dipamerkan:

    1. Affandi, Laskar Rakyat Mengatur Siasat, 1946
    2. Affandi, potret H.O.S. Tjokroaminoto, 1946
    3. Basoeki Abdullah, Pangeran Diponegoro Memimpin Perang, 1949
    4. Dullah, Persiapan Gerilya, 1949
    5. Harijadi Sumadidjaja, Awan Berarak Jalan Bersimpang, 1955
    6. Harijadi Sumadidjaja, Biografi II di Malioboro, 1949
    7. Henk Ngantung, Memanah, 1943 (reproduksi orisinal oleh Haris Purnomo)
    8. Kartono Yudhokusumo, Pertempuran di Pengok, 1949
    9. Raden Saleh, Penangkapan Pangeran Diponegoro, 1857
    10. S. Sudjojono, Di Depan Kelambu Terbuka, 1939
    11. S. Sudjojono, Kawan-kawan Revolusi, 1947.
    12. S. Sudjojono, Markas Laskar di Bekas Gudang Beras Tjikampek, 1964
    13. S. Sudjojono, Mengungsi, 1950
    14. S. Sudjojono. Sekko (Perintis Gerilya), 1949
    15. Sudjono Abdullah, Diponegoro, 1947
    16. Trubus Sudarsono, Potret R.A. Kartini, 1946/7
    17. Gambiranom Suhardi, Potret Jenderal Sudirman, 1956
    18. Soerono, Ketoprak, 1950
    19. Ir. Sukarno, Rini, 1958
    20. Lee Man-Fong, Margasatwa dan Puspita Nusantara, 1961
    21. Rudolf Bonnet, Penari-penari Bali sedang Berhias, 1954
    22. Hendra Gunawan, Kerokan, 1955
    23. Diego Rivera, Gadis Melayu dengan Bunga, 1955
    24. Miguel Covarrubias, Empat Gadis Bali dengan Sajen, sekitar 1933-1936
    25. Walter Spies, Kehidupan di Borobudur di Abad ke-9, 1930
    26. Ida Bagus Made Nadera, Fadjar Menjinsing, 1949
    27. Srihadi Soedarsono, Tara, 1977
    28. Mahjuddin, Pantai Karang Bolong, tahun tak terlacak (sekitar 1950an)

    DIAN YULIASTUTI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.