Joni Sok Jagoan Borong Piala Lomba Film tentang Polisi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar berfoto bersama peserta dan kiri Police Movie Festival 2016 di XXI Epicentrum, Jakarta, 19 Juni 2016. Tempo/Rezki A

    Kepala Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar berfoto bersama peserta dan kiri Police Movie Festival 2016 di XXI Epicentrum, Jakarta, 19 Juni 2016. Tempo/Rezki A

    TEMPO.CO, Jakarta -Joni tidak menyangka bakal berhadapan dengan polisi siang itu. Saat ia tengah asyik buang air kecil di bawah pohon, seorang polisi lalu lintas menghampirinya. Joni kaget dan mengira dirinya salah karena mengencingi pohon.

    Joni ternyata memarkir motornya di bawah tanda larangan stop. Polisi mau menilang Joni, namun, murid sekolah menengah atas itu justru merendahkan sang polisi. "Ah, polisi cuma bisa tilang," ujar Joni yang diperankan Ahmad Hari Kurniawan.

    Ia terus mengomel sambil menunjuk ke dada polisi (Adhita Oktavandanu), dan berkata kalau dia jadi polisi maka dia akan lebih baik dari polisi itu. Tiba-tiba, pakaian mereka tertukar. Joni berseragam polisi dan polisi memakai baju putih abu-abu. Helm mereka juga. Joni panik, ia menarik perkataannya. Namun seorang perempuan berteriak meminta tolong. Joni terpaksa mengurusinya.

    Joni adalah tokoh dalam film pendek berjudul Joni Sok Jagoan. Film karya Sebelas Sinema Pictures ini berhasil memancing tawa penonton Police Movie Festival di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu, 19 Juni 2016. Police Movie Festival adalah kompetisi film yang mengangkat cerita tentang polisi. Dari 113 film yang sampai ke meja panitia, 10 film pendek dan 3 film animasi masuk ke babak final.

    Joni Sok Jagoan memborong piala setelah melalui penjurian. Di antaranya adalah ide cerita terbaik, sutradara terbaik, dan juara 1 lomba film pendek Police Movie Festival 2016. Sutradara film, Mustafa, mengatakan, pembuatan film ini memakan waktu dua pekan. Ada belasan kru yang terlibat, di luar dari 5 pemain. Ia bercerita, ide film ini sebetulnya dari ketertarikan Mustafa pada film Bruce Almighty yang dibintangi Jim Carrey. Dalam film itu, Jim Carrey bertukar peran dengan Tuhan.

    "Sekarang saya bikin bagaimana kalau kita tiba-tiba jadi polisi, bisa nggak?" Ujar pemuda 22 tahun ini. Ia mengikuti lomba film ini karena ingin mengaspirasikan pikiran mereka tentang polisi. "Banyak yang meremehkan polisi," kata dia lagi. Mustafa menganggap citra polisi semakin baik dengan adanya berbagai tayangan program di televisi. Ia memoles temannya menjadi sosok polisi dengan cara mengingat kembali pengalamannya ketika berinteraksi dengan polisi.

    Aktor Reza Rahadian, salah satu juri, mengatakan belum banyak yang spesial dari film-film yang diperlombakan. Ia menilai umumnya pembuat film ini hanya mengangkat cerita tentang polisi lalu lintas yang tugasnya menilang. Menurut Reza, ada beberapa film yang secara imej dibangun hanya dari satu sudut pandang, sehingga terkesan pencitraan.

    Ia berharap di tahun-tahun berikutnya, peserta juga bisa memilih tema dari kacamata berbeda. "Dan boleh loh bukan hanya mengangkat cerita yang indah saja, tapi juga kritik buat kepolisian," ujar pemeran BJ Habibie dalam film Habibie & Ainun ini.

    Reza mengatakan "Joni Sok Jagoan" terpilih sebagai pemenang karena ide dan gagasan sutradara sangat relevan dengan apa yang terjadi saat ini. "Filemis, pendek, tepat sasaran, ceritanya jelas mau ngapain dari awal sampai akhir, pesan yang mau disampaikan cukup jelas, dan saya melihat reaksi penonton umum juga sangat happy," kata Reza.

    Aktris Prisia Nasution setuju dengan Reza, bahwa banyak peran-peran polisi yang belum dimunculkan dalam film-film ini. "Polisi bukan hanya bertugas di lalu lintas tapi ada juga loh anggota polisi yang bertugas di perbatasan," kata perempuan 32 tahun ini. Ia juga berharap ada sudut pandang tentang polisi dari Indonesia Timur. Produser Robert Ronny menilai sineas film harus lebih banyak riset.

    Ketua acara Police Movie Festival 2016, Hasby Ristama, mengatakan kompetisi film tentang polisi ini memasuki tahun ketiga. Pendaftarannya dibuka sejak 11 April sampai 4 Juni 2016. Setiap film yang diikutkan bertemakan "Hero" dengan durasi waktu paling lama 5 menit. "Yang unik di tahun ketiga ini karena ada lomba film animasi," kata Hasby. Film-film ini pun akan disajikan di Youtube dan disebarkan. Total hadiah buat para juara senilai Rp 65 juta dari Kepolisian RI.

    Kepala Bagian Penerangan Umum Polri, Komisaris Besar Martinus Sitompul, mengatakan sebetulnya ada banyak kegiatan polisi setiap hari selain mengatur lalu lintas. Di antara mereka juga ada sineas film. "Tetapi mereka tidak mau menyalurkan karena beban tugas harian," ucap Martin. Hasilnya di lomba ini, ada 13 film yang dibuat anggota polisi dan 2 di antaranya masuk final.

    Kepala Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar mengatakan kompetisi ini berkaitan dengan Hari Bhayangkara, yang diperingati setiap 1 Juli. Boy menjelaskan bahwa acara ini punya tujuan jangka panjang. Yakni, lebih memasyarakat tugas kepolisian kepada masyarakat. Juga agar masyarakat semakin memahami tugas polisi di masyarakat. "Ini juga menjadi sumber inspirasi bagi anggota Polri," ucap dia.


    Para pemenang Police Movie Festival 2016

    Juara I: Joni Sok Jagoan
    Juara II: Kesusu
    Juara III: Mirip Ayah
    Ide cerita terbaik: Joni Sok Jagoan
    Sutradara terbaik: Joni Sok Jagoan
    Film animasi terbaik: Ikhlas
    Police Choice Award (di luar film yang dilombakan): Guru Bangsa Tjokroaminoto

    REZKI ALVIONITASARI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.