Praperadilan Penganiaya Tamara Bleszynski Ditolak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktris Tamara Bleszynski usai melakukan visum di RS Bhayangkara Trijata, Denpasar atas dugaan kasus penganiayaan yang dialaminya di Echo Beach, Kuta Utara, Bali, 14 April 2016. TEMPO/Bram Setiawan

    Aktris Tamara Bleszynski usai melakukan visum di RS Bhayangkara Trijata, Denpasar atas dugaan kasus penganiayaan yang dialaminya di Echo Beach, Kuta Utara, Bali, 14 April 2016. TEMPO/Bram Setiawan

    TEMPO.CO, Denpasar - Praperadilan tersangka penganiaya artis Tamara Bleszynski, Wayan Putra Wijaya alias Wayan Sorbat, ditolak. Hakim Tunggal Made Pasek dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Senin, 13 Juni 2016, memutuskan menolak pengajuan praperadilan Wayan Putra Wijaya.

    "Kami menolak praperadilan tersangka, karena dua alat bukti sudah dipenuhi termohon," kata Hakim Made Pasek.

    Dalam amar putusannya, Hakim Made Pasek mengungkapkan berdasarkan sejumlah pertimbangan yang menjelaskan penetapan tersangka, merupakan rangkaian dari tindakan penyidikan. Dalam pengumpulan bukti-bukti, termohon telah memeriksa saksi-saksi dan hasil penyidikan telah dilakukan gelar perkara.

    Selain itu, termohon telah melakukan konfrontir dan penetapan tersangka pemohon telah didasarkan pada alat bukti yang disebut dalam Pasal 184 KUHAP yaitu keterangan saksi, keterangan ahli dan alat bukti surat.

    Selanjutnya alat bukti berupa keterangan saksi, keterangan ahli dan alat bukti surat dapat meyakinkan hakim, bahwa tindak pidana penganiayaan itu benar terjadi.

    "Apakah benar Pemohon yang bersalah melakukan, bukan lah wewenang hakim praperadilan, karena hal itu merupakan persoalan yang akan diuji dalam pemeriksaan pokok perkara dan hakim menolak permohonan praperadilan pemohon," ujar Hakim Made Pasek.

    Sambil mengendarai sepeda motor, tersangka mendekati korban. Lalu, tersangka menjambak dan menarik rambut korban dengan tangan kiri. Ketika itu, korban tengah dibonceng Adrian Theodore King (teman korban). Akibat penganiayaan itu, korban merasakan pusing serta rasa sakit di bagian kepala, karena mengalami luka memar pada kepala bagian belakang sisi kanan.

    Penetapan tersangka, juga berdasarkan keterangan saksi korban Tamara Bleszynski, didukung keterangan Adrian Theodore King, hasil rekontruksi dan hasil Visum Et Repertum kedokteran foreksik telah bersesuaian.

    Keterangan saksi (rekan Pemohon) yang menyatakan Pemohon menarik rambut seorang laki-laki bernama Andrian Theodore King telah terbantahkan oleh keterangan saksi Tamara. Selanjutnya, keterangan Adrian, dari hasil rekonstruksi dan BAP konfrontir, terbukti pemohon menarik rambut korban (Tamara Bleszynski).

    Adapun tim kuasa hukum Sobrat, Iswahyudi dan Puguh Wiyanto, dalam surat pengajuan permohonan menyatakan pemohon dalam mengajukan permohonan praperadilan atas sah atau tidaknya penetapan tersangka. Berdasarkan surat panggilan yang dikeluarkan Termohon Nomor Spgl/92/IV/2016/Reskrim tanpa tanggal, namun tercatat hanya bulan April 2016.

    Kemudian, pemohon telah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara penganiayaan yang terjadi di Jalan Jalan Raya Semat, Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Badung. "Penetapan Termohon yang telah menjadikan Pemohon sebagai tersangka adalah tindakan terburu-buru (prematur) dan tidak berdasarkan aturan atau putusan MK Nomor 21/PUU-XII/2014 yang menegaskan adanya minimal dua alat bukti," ujarnya. Oleh sebab itu, dalam penetapan tersangka tidak boleh hanya berdasarkan asumsi.

    Hasil putusan sidang yang dipimpin Hakim Tunggal Made Pasek menguatkan penetapan tersangka Wayan Putra Wijaya oleh Kepolisian Sektor Kuta Utara (selaku termohon).

    ANTARA | RINA W


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Macam Batal Puasa

    Ada beberapa macam bentuk batalnya puasa di bulan Ramadan sekaligus konsekuensi yang harus dijalankan pelakunya.