Doa Keiko Takeya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Keiko Takeya kembali ke Indonesia. Koreografer asal Jepang itu, kembali menampilkan karyanya di beberapa kota dalam rangka Indonesia Tour 2006: Taman Budaya Surakarta (11 Mei 2006), Yogyakarta (12 Mei), Tegal (14 Mei), Bandung (19 Mei), dan Taman Ismail Marzuki Jakarta (16 Mei). Sebelumnya, pada 1993, Keiko Takeya pernah tampil di Indonesia, yakni Jakarta dan Surakarta. Ketika pertunjukan di Solo, kareografer asal Solo Valendra Adi Surya ikut memeriahkan pagelaran dengan karyanya berjudul Reratak. Kali ini, bersama Keiko Dance Company ia mengajak Mitateru Bando, Terushi Banda, Omote Hanayagi dan Monomo Hanayagi untuk menemaninya menari. Juga ada Terushi Bando dan Mitateru Bando sebagai pemain yang merangkap kareografer, selain dirinya.Keiko dan teman-temannya membawakan beberapa karya ke atas panggung Indonesia: Kalavinka, Kiyomoto "Festival Kanda", Fuji-Musume, Misalkan Bunga Camellia serta Passion-Pemandangan dalam Doa. Keiko bermain dalam dua tari, yang sekaligus menjadi kareografernya, pada pertunjukan itu, yakni Misalkan Bunga Camellia dan Passion-Pemandangan dalam Doa. Dalam "Passion", Keiko menampilkan empat sikap doa yakni doa tanpa alas kaki, doa sebatang ranting, doa kursi dan doa untuk esok hari. Dengan kemeja lengan panjang dan celana panjang pula, seolah seorang wanita kantoran Keiko melepas sepatunya di salah satu sudut. Sepatu berhak tinggi itu diletakkan di jejeran sepatu-sepatu lain. Saat itulah ia melakukan semacam kontemplasi: tangannya kadang merenggang, menengadah dan sesekali mengusap wajah. Perpindahan dari gerak satu ke gerak lain, Keiko menyuguhkan gerakan-gerakan balet yang menawan. "Saya sangat tertarik pada sikap wanita yang berdoa. Doa yag disajikan oleh kaum lemah selalu lenyap begitu saja. Ingin saya menyimak suara kecil yang sebenarnya dapat ditemukan di berbagai tempat," kata Keiko. Dia pun memanggul ranting-ranting kayu bakar dan anak domba. Wajahnya menyimpan sebuah harapan terhadap ranting dan anak dombanya yang selalu dipeluknya. Keiko melakukannya dengan sangat intens terhadap setiap gerakannya. Hampir di dalam setiap pergantian gerakan, Keiko seolah menjadikan tubuhnya sebagai sebuah patung. S.Pamardi, koreografer Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta yang kerap melakukan kolaborasi dengan penari Jepang itu, mengatakan hal itu sebagai ensensi dari tari-tari tradisi di Jepang. Pamardi menyebut apa yang dilakukan Keiko adalah refleksi dari kehidupan sehari-hari melalui pendekatan tari klasik Jepang. "Temanya sangat sederhana tetapi dilakukan dengan totalitas," ujarnya. IMRON ROSYID | MUS

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapolri Keluarkan 11 Langkah dalam Pedoman Penerapan UU ITE

    Kepala Kepolisian RI Jenderal atau Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengeluarkan pertimbangan atas perkembangan situasi nasional terkait penerapan UU ITE.