Bekraf dan Irama Nusantara Targetkan 1.500 Musik Terdokumentasi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Triawan Munaf sebelum dilantik menjadi Kepala  Badan Ekonomi Kreatif oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Senin 26 Januari 2015. TEMPO/Subekti.

    Triawan Munaf sebelum dilantik menjadi Kepala Badan Ekonomi Kreatif oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Senin 26 Januari 2015. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta -Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Yayasan Irama Nusantara menjalin kerja sama untuk pendokumentasian dan pengarsipan musik populer Indonesia. Keduanya menargetkan tak kurang 1.500 musik terdokumentasi dalam kerja sama ini.

    Saat ini Yayasan Irama Nusantara telah mendokumentasikan dan mengarsipkan  1.000 rilisan fisik musik Indonesia  di era tahun 1950-an hingga 1980-an dalam bentuk digital . Melalui peluncuran program dokumentasi musik Indonesia ini, ungkap Triawan, Bekraf dan Irama Nusantara diharapkan dapat menambah arsip musik sejumlah 1.500 rilisan dari era tahun 1920-an hingga 1950-an.

    “Kami optimistis ingin bisa menyediakan 100 rilisan digital di setiap bulan,” kata Kepala Bekraf, Triawan Munaf usai penandatanganan kerja sama di Rolling Stone Café, Rabu, 1 Juni 2016.

    Masyarakat dapat mengetahui dan menikmati sajian ribuan dokumentasi dan arsip musik era 1920-1980-an melalui situs iramanusantara.org. musik ini bisa dinikmati melalui perangkat elektronik berbasis internet. Selain bisa menikmati musik jadul, masyarakat juga bisa menikmati sajian karya visual dari salinan digital sampul album yang dirilis saat itu.

    Digitalisasi piringan Hitam Shellac 78 RPM rilisan digital tersebut berasal dari data piringan hitam musik Indonesia yang mendominasi format rekaman saat itu.  Menemukan piringan hitam dalam kondisi yang baik , menjadi tantangan bagi David Tarigan yang menggawangi Yayasan Irama Nusantara untuk proses alih bentuk musik Indonesia dari fisik menjadi digital. Prioritas upaya dokumentasi era di bawah 1950-an menjadi prioritas utama.

    “Plat-plat dari era tersebut untuk menemukannya saja susah, apalagi dalam kondisi yang baik. Bahannya juga bukan vinil, mudah sekali pecah. Ditambah keadaan cuaca Indonesia serta metode penyimpanan yang sederhana, situasi ini tidak memungkinkan piringan hitam berumur panjang,” ujar  David.

    Pada 2016, bersama Bekraf, Irama Nusantara mulai menjajaki progam Gerakan 78 yang merupakan upaya pengarsipan dan pendataan materi piringan hitam shellac (78 RPM) yang banyak ditemui di berbagai stasiun siaran radio, diantaranya Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) di seluruh Indonesia. Saat ini pendataan mulai di lakukan di seluruh RRI.

    Arsip fisik ini merupakan rekaman musik populer Indonesia paling tua yang berasal dari era tahun 1920-an hingga 1950-an. “Di sinilah urgensi untuk melakukan upaya pengarsipan dan pelestariannya yang lebih tinggi dibandingkan koleksi musik terkini. Selain itu, kami melihat bahwa era tersebut dapat disebut sebagai titik awal industri musik populer di Indonesia,” ujar David.

    Dengan pendataan, pendokumentasian dan pengarsipan, akan memudahkan generasi muda belajar tentang khazanah musik dan kebudayaan Indonesia. Hal ini juga dinilai sebagai upaya pelestarian kekayaan musik Indonesia. Musik dan karya seni, kata David juga lahir seiring peristiwa sosial-ekonomi-politik-budaya di zamannya dan mewakili generasi dan sejarahnya.

    Situs daring Irama Nusantara sendiri lahir atas wujud kecintaan dari segelintir orang terhadap musik populer Indonesia, di antaranya David Tarigan bersama Christoforus Priyonugroho, Toma Avianda, Alvin Yunata, Dian Onno, Norman Illyas dan Mayumi Haryoto. Sebagai pekerja dan penikmat musik, mereka merasa sayang jika musik Indonesia hilang begitu saja dalam kenangan dan tidak terdapat satu pun dokumentasi modern yang dapat diakses oleh publik.

    Mereka lantas menggagas sebuah gerakan pengarsipan musik populer Indonesia dari format piringan hitam menjadi berkas digital. Lebih tepatnya, musik populer Indonesia era tahun 1950-an hingga 1980-an. Secara swadaya, sejak 2013, para penggagas Irama Nusantara yang juga hobi mengoleksi rilisan musik ini mulai melakukan digitalisasi piringan hitam musik populer di Indonesia ke dalam situs iramanusantara.org.

    Alvin Yunata dari Irama Nusantara menjelaskan, Irama Nusantara tidak hanya akan mengarsipkan lagu-lagu lama melainkan juga lagu-lagu masa kini dengan izin dari pencipta lagu dan penyanyinya. Dia juga mengundang berbagai pihak, pecinta musik Indonesia terlibat dalam gerakan ini.  “Kami berharap koleksi musik masa kini dapat menambah kekayaan ranah musik Indonesia.,” ujar Alvin.

    DIAN YULIASTUTI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Tanda Masker Medis yang Asli atau Palsu

    Saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, masker adalah salah satu benda yang wajib kita pakai kemanapun kita beraktivitas. Kenali masker medis asli.