Keseimbangan Legong-Bedaya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Gedebuk kendang Bali I Gusti Kompyang Raka, menggedor-gedor di antara ledakan kecer Bali, yang diiringi lantunan gamelan Jawa, menghantarkan sebuah komposisi perang. Perpaduan gamelan Jawa dan gamelan Bali, menjadi musik latar dari 'peperangan' antara para penari legong Bali dengan penari Bedhaya Jawa, di panggung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Sabtu dan Minggu malam.Di dua kesempatan itu, dua penari kawakan, Retno Maruti dan Bulantrisna Djelantik mengarsiteki sebuah kolaborasi antara tari Bedaya dan Legong yang mengangkat kisah Calonarang. Legenda itu sendiri, terjadi di masa Raja Erlangga dari Kerajaan Kediri, sekitar abad 11.Calonarang adalah seorang tokoh yang dikucilkan karena dituduh menebar teluh ke tengah masyarakat. Kemudian, Raja Erlangga memerintahkan Empu Barada untuk memerangi Calonarang. Ia meminta kepada Bahula untuk mengawini Ratna Manggali, putri Calonarang, untuk mengorek kelemahan Calonarang.Setelah menikah, Bahula merayu Ratna Mangggali untuk mencuri lontar yang menjadi senjata pusaka Calonarang. Dan peperangan antara pasukan Calonarang dan Mpu Barada tak terhindarkan. Kisah ini adalah kisah yang sangat populer di masyarakat Bali.Indra Darmawan

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.