Bom Sarinah, Cuitan Ahmad Dhani Dihujat Netizen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ahmad Dhani memberikan konferensi pers terkait rencana duel tinju antara El dengan Farhat Abbas di kediamannya di Pondok Indah, Jakarta (29/11).  Perselisihan antara AL dan EL terhadap Farhat Arbas terjadi karena karena mengejek ayahnya Ahmad Dhani di situs Jejaring Sosial. TEMPO/Nurdiansah

    Ahmad Dhani memberikan konferensi pers terkait rencana duel tinju antara El dengan Farhat Abbas di kediamannya di Pondok Indah, Jakarta (29/11). Perselisihan antara AL dan EL terhadap Farhat Arbas terjadi karena karena mengejek ayahnya Ahmad Dhani di situs Jejaring Sosial. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.COJakarta - Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian menyatakan bahwa pelaku teror di kawasan Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta, pada Kamis, 14 Januari 2016, terkait dengan kelompok ISIS.

    Menanggapi hal itu, musikus Dhani Ahmad Prasetyo atau yang dikenal dengan sebutan Ahmad Dhani mencuit dalam akun Twitter-nya, @AHMADDHANIPRAST: "Kalo memang ISIS...Ya udah kita minta maaf aja lah...apa salah kita? Nanti kita perbaiki.Yang penting jgn di bom lagi."

    Cuitan pemimpin Republik Cinta Management tersebut rupanya menuai kontroversinetizen. Seorang netizen, Akoe, melalui akun Twitter ‏@MFeryW, mengatakan: "Emang ISIS siapa yaa?? Dan mengapa harus minta maaf sama mereka yaa?? Apa mereka ISIS hakim kita??? *gagalpaham* @AHMADDHANIPRAST"

    Dicky Surya ‏dengan akun @dickysusila bahkan menilai Ahmad Dhani hanya ingin mencari sensasi: "@AHMADDHANIPRAST sensasi murahan lo dan!"

    Rachman betawi ‏melalui akun @rachman210465 pun menanyakan maksud cuitan Ahmad Dhani itu: "@AHMADDHANIPRAST kesalahan siapa? Apa yakin mrk dr ISIS dan knp harus minta ma'af pd mrk ? Justru mrk yg harus minta ma'af krn bikin resah."

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.