GoetheHaus, Putar Film Kisah Migran Indonesia di Belanda

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja migran asal Indonesia yang diduga ilegal ditangkap untuk diperiksa dokumennya saat operasi pekerja migran ilegal di Kelang, Malaysia, Minggu (1/9). REUTERS/Bazuki Muhammad

    Seorang pekerja migran asal Indonesia yang diduga ilegal ditangkap untuk diperiksa dokumennya saat operasi pekerja migran ilegal di Kelang, Malaysia, Minggu (1/9). REUTERS/Bazuki Muhammad

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemutaran film dan diskusi "Dispereet Niet: Pekerja Migran Indonesia di Belanda" digelar di GoetheHaus, Jakarta, Jumat, 31 Juli 2015, malam.

    Acara yang dihadiri ratusan pengunjung tersebut merupakan kerja sama antara Indonesian Migrant Workers Union (IMWU) Netherlands dengan dukungan Komnas Perempuan.

    "Lewat film ini, kami ingin orang-orang melihat apa yang sebenarnya terjadi pada pekerja migran di sana, utamanya yang tak memiliki dokumen lengkap," kata Yasmin Soraya dari IMWU Nederlands dalam sambutannya di Jakarta, Jumat.

    Film karya sutradara Irwan Ahmett itu mengisahkan tentang persoalan dan sisi lain pekerja asal Indonesia yang berada di Belanda. Film berdurasi 1 jam 6 menit ini, diinisiasi oleh pekerja asal Indonesia yang tinggal di Belanda.

    Disperereert Niet sendiri Bahasa Indonesia memiliki arti jangan berputus asa. Sebuah paradox yang dipilih Irwan Ahmett dari semboyan JP Coen yang merupakan pahlawan bangsa Belanda tapi musuh Indonesia.

    Irwan Ahmett, mengatakan, pembuatan film ini didasari oleh hal yang paling sederhana. Yakni menyampaikan persoalan dan masalah, mulai dari individual, komunitas hingga kemanusiaan.

    Dalam film yang dibuat sekitar satu tahun itu, mengangkat persoalan masalah upah, jam kerja dan keamanan dari pelecehan seksual hingga keluar rumah, baik untuk keperluan pribadi maupun pekerjaan.

    "Persoalan yang terjadi di Belanda adalah sebuah polemik yang berkaitan dengan konteks sejarah antara Indonesia dan Belanda. Saya di sini mencoba mengurai benang kusut dengan merefleksikan temuan-temuan dari kehidupan teman-teman pekerja migran di sana. Saya banyak main di simbol. Domestic worker di sana sudah jadi simbol budaya tapi tidak mendapat pengakuan sebagai profesi," kata Irwan.

    ANTARA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.