Kutip Puisi Sang Ayah, Anak Wiji Thukul Bikin Album Rekaman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fajar Merah, anak aktivis Wiji Thukul yang hilang di era orde baru. TEMPO/Ahmad Rafiq

    Fajar Merah, anak aktivis Wiji Thukul yang hilang di era orde baru. TEMPO/Ahmad Rafiq

    TEMPO.CO, Solo - Fajar Merah, anak Wiji Thukul, aktivis yang hilang, membuat album rekaman perdana bersama kelompok musiknya, Merah Bercerita, yang dibentuknya empat tahun lalu. Album yang akan diluncurkan setelah Lebaran itu diberi judul yang sama dengan nama kelompoknya.

    "Ada sepuluh lagu yang kami rekam untuk album tersebut," kata Fajar Merah saat ditemui di kediamannya, Senin, 13 Juli 2015. Penggarapan album itu dimulai sejak Agustus tahun lalu.

    Beberapa lagu yang ada dalam album tersebut berasal dari puisi karya Wiji Thukul, seperti Apa Guna, Kebenaran Akan Terus Hidup, Derita Sudah Naik Seleher, serta Bunga dan Tembok. Selebihnya adalah karya Fajar sendiri.

    Menurut Fajar, proses penggarapan album tersebut tergolong cukup cepat. "Ada tujuh lagu yang rekamannya bisa diselesaikan dalam sehari," katanya. Namun tiga lagu yang lain direkam dalam waktu satu bulan lantaran menyesuaikan jadwal studio rekaman.

    Kelompok musik Merah Bercerita digawangi empat personel, yakni Fajar Merah (vokal dan gitar) serta tiga rekannya, yaitu Gandhi Asta (gitar), Yanuar Arifin (bas), dan Lintang Bumi (drum). Personel kelompok musik itu merupakan kawan sekolah Fajar saat menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 8 Surakarta yang dulunya lebih dikenal sebagai Sekolah Menengah Karawitan Indonesia.

    Fajar Merah lahir pada 23 Desember 1993 dari pasangan Wiji Thukul dengan Dyah Sujirah. Ayahnya hilang tanpa jejak saat dia berusia empat tahun. Saat ini Fajar bekerja sebagai penjaga persewaan studio musik.

    AHMAD RAFIQ


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.