Pakai Busana Syar'i Kuno? Ini Kata Umi Pipik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Artis Inneke Koesherawati (kiri) dan Dewi Sandra (kanan), menemani Umi Pipik saat memberikan kultum pada perayaan ulang tahun Wardah kosmetik di Jakarta, 26 Juni 2015. TEMPO/Nurdiansah

    Artis Inneke Koesherawati (kiri) dan Dewi Sandra (kanan), menemani Umi Pipik saat memberikan kultum pada perayaan ulang tahun Wardah kosmetik di Jakarta, 26 Juni 2015. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Berbusana syar'i masih sering dianggap kuno. Hal ini tidak ditampik oleh Pipik Dian Irawati Popon atau lebih akrab disapa Umi Pipik. Namun, saat ditemui di Thamrin City, Jakarta Pusat, Sabtu, 4 Juli 2015, Ummi Pipik menjelaskan bahwa busana syar'i tidak selamanya terlihat kuno dan kolot. Ia mencontohkan busana kaftan yang syar'i.

    Istri dari mendiang Jefry Al Buchori ini mengatakan bahwa setiap muslimah masih bisa terlihat modis dengan mengenakan busana kaftan. Namun tentunya, ia menjelaskan, untuk mengenakan kaftan syar'i yang kelihatan modis itu ada triknya.

    "Pertama, jangan hanya pakai bajunya aja," kata wanita berusia 37 tahun ini. Ia menjelaskan bahwa seseorang yang ingin mengenakan busana kaftan syar'i harus mengenakan manset terlebih dahulu. Ia juga menegaskan bahwa manset yang dipakainyapun tidak boleh ketat melainkan harus longgar.

    Kedua, ibu dari Adiba Khanza Az-Zahra ini juga mengimbau agar mereka menggunakan legging. "Fungsi legging itu bukan paduan untuk atasan tapi dipakai supaya kaki tidak terlihat," katanya. "Kaki juga aurat," lanjut Ummi Pipik.

    Umi Pipik juga mengatakan mengenakan pakaian itu merupakan wujud ketaatan kepada Tuhan. "Kalau kita cinta sama Allah, maka kita akan taat. "Nah, dengan menutup aurat, itu sebenarnya adalah salah satu bukti cinta kita kepada Allah SWT.

    DINI TEJA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.