Resensi 'Terminator Genisys': Banyak Lubang Plot  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terminator Genisys (Foto: Skydance)

    Terminator Genisys (Foto: Skydance)

    TEMPO.CO, Jakarta -"Hasta la vista baby!" Bagi mereka yang rajin mengikuti seri Terminator, tak mungkin tidak tahu akan ucapan tersebut. Diucapkan oleh robot Terminator T-800 (Arnold Schawarzenegger) saat menembak mati T-1000 (Robert Patrick), ucapan tersebut menjadi bagian penutup Terminator 2 Judgement Day (1991) karya James Cameron.

    Ucapan tersebut sesungguhnya punya arti lebih. Bagi James Cameron, ucapan itu juga untuk menandakan bahwa kisah Terminator berakhir di Judgement Day. Namun, keinginan James itu tak pernah tercapai, apa lagi kalau bukan karena keinginan studio-studio Hollywood.

    Usai Judgement Day, kisah Terminator terus berlanjut lewat Rise of The Machine dan Salvation. Tak satu pun dari keduanya tampil bagus. Alih-alih mengungguli kedua pendahuunya, menyamai kualitasnya pun tidak. Namun, hal itu tak menghentikan laju produksi sekuel terbarunya yang berjudul Terminator Genisys.

    Disutradarai oleh Alan Taylor (Game of Thrones, Thor The Dark World), Genisys masih berkisah tentang upaya menyelamatkan nasib manusia dari ancaman Skynet, sebuah program yang menciptakan Terminator, lewat perjalanan waktu. Tokoh-tokoh protagonisnya pun masih sama yaitu Kyle Reese, John Connor, Sarah Connor, dan T-800. Lalu, apa yang beda?

    Genisys berbeda dengan pendahulunya karena didesain sebagai soft reboot saga Terminator. Dengan kata lain, ia mengubah kisah-kisah Terminator sebelumnya, namun tetap mengakuinya sebagai bagian dari kontuinitas. Ala film X-Men Days of Future Past, hal tersebut dicapai dengan perjalanan waktu yang bersentuhan dengan lini masa Terminator, Judgement Day, Rise of The Machines, dan anehnya kecuali Salvation.

    Sebagaimana diketahui, cerita dengan unsur perjalanan waktu adalah salah satu storytelling paling beresiko. Terkadang niat membuat kejutan malah justru membuat berbagai lubang plot yang tak terjelaskan hingga akhir film. Di sisi lain, membuat penonton pusing memetakan lini masa yang telah diutak-atik lewat time travel. Sayangnya, skenario terburuk itu terjadi pada Genisys.

    Sebelum maju terlalu jauh, mari sedikit kilas balik tiga kasih terminator pertama. Pada Terminator, pemimpin faksi manusia pada 2029 John Connor mengirimkan tentara bernama Kyle Reese ke tahun 1984. Misi Kyle, selamatkan Sarah Connor dari kejaran Terminator. Jika Sarah mati, masa depan manusia terancam karena John tak akan pernah lahir. Kyle menuntaskan misinya, meski pada akhirnya tewas.

    Pada Judgement Day, misi berubah menjadi menyelamatkan John Connor muda dari kejaran Terminator T-1000 sekaligus mencegah penciptaan Skynet oleh Cyberdyne. Kali ini, John Connor masa depan mengirim Terminator T-800 ke tahun 1995 untuk menggantikan Kyle yang tewas di film pertama. T-800 sukses menjalankan misinya.

    Rise of The Machine mengungkapkan bahwa event film Judgement Day tak mengubah masa depan manusia. T-800 dan John Connor pada Judgement Day hanya berhasil menunda kiamat, tak meghentikannya. Pada intinya, manusia ditakdirkan untuk mengalami satu fase kiamat sebelum John berhasil membawa kemenangan manusia pada perang melawan mesin. Pada film ini, kiamat akibat nuklir akhirnya terjadi pada 2004.

    Genisys mengutak-atik lini masa ketiga film itu. Kyle tetap dikirim ke tahun 1984 untuk menyelamatkan Sarah. Namun, apa yang terjadi malah Sarah yang menyelamatkan Kyle. Dan Sarah tak sendiri, namun dibantu oleh T-800 tua namun bukan rongsokan. Bahkan, T-800 tua (kita sebut 'Pops') bertarung dengan T-800 asli yang dikirim Skynet untuk membunuh Sarah.

    Kyle kebingungan. Lini masa tempat ia berada tak sesuai dengan apa yang dijelaskan John masa depan. Apalagi, selama menempuh perjalanan waktu, ia mendapat memori masa kecil yang tak pernah terjadi sebelumnya. Belum lagi melihat Sarah yang sudah beraksi bak tentara bersama Pops.

    Pops pun tak tahu siapa yang mengirimnya dan bagaimana ia bisa dikirim lebih awal dibanding waktu yang seharusnya. Teori Pops, ada pihak dari masa depan, baik manusia dan mesin, yang mengetahui lini masa original dan mengubahnya kembali. Alhasil, peristiwa di Terminator hingga Rise of The Machines dianggap hilang.

    Hal ini makin kacau ketika John Connor masa depan tiba-tiba hadir di masa lalu. Bukan untuk selamatkan Sarah, namun justru untuk membunuh Sarah, Kyle, dan Pops. Dan, John telah berubah menjadi mesin, membela kubu mesin. Dicuci otak oleh Skynet yang hadir dalam bentuk OS bernama Genisys, John harus memastikan kiamat, yang tertunda pada tahun 1997 dan 2004 akibat perubahan lini masa, terlaksana di 2017.

    Bagaimana lini masa itu berubah tak terungkap penuh hingga akhir film. Terminator Genisys tak berhasil menjelaskan kenapa sampai ada Terminator yang terkirim ke masa Sarah masih kecil ataupun kenapa nasib John masa depan berbeda dengan kisah Rise of The Machines di mana John tewas tahun 2032, 3 tahun setelah kemenangan manusia.

    Sutradara Alan Taylor berusaha menutupi lubang-lubang plot itu dengan adegan aksi yang menegangkan serta spesial efek yang menarik seperti bus sekolah yang salto ataupun baku hantam antara Pops yang tua dengan Cyborg John Connor. Tapi, tetap saja, lubang-lubang plot membuat perhatian lepas dari action yang disajikan karena sibuk memetakan kekacauan lini masa yang terjadi.

    Entah apakah Hollywood masih berminat untuk melanjutkan seri ini. Adegan tambahan di tengah kredit menunjukkan adanya niat itu. Namun, dibanding melanjutkan, sepertinya reboot total akan lebih bijak. Yah, setidaknya film ini lebih bisa dinikmati dibanding Salvation karena ada sedikit napas segar akibat utak-atik lini masa itu.

    Mungkin benar kata James Cameron, kisah Terminator seharusnya berakhir pada Judgement Day. Happy ending, penonton tepuk tangan, dan tirai bioskop tertutup untuk saga Terminator.

    Terminator Genisys
    Sutradara: Alan Taylor
    Penulis naskah: Laeta Kalogridis
    Studio: Skydance
    Distributor: Paramount Pictures
    Durasi: 120 menit
    Pemeran: Arnold Schwarzenegger, Emilia Clarke, Jason Clarke, Jai Courtney, J.K Simmons, Lee Byung Hun.

    ISTMAN MP


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.