Seniman Ludruk Sidik Wibisono Wafat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ludruk Kartolo Cs di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Jumat (13/04). Foto: Tempo/Arnold Simanjuntak;20121413

    Ludruk Kartolo Cs di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Jumat (13/04). Foto: Tempo/Arnold Simanjuntak;20121413

    TEMPO.CO, Surabaya-Seniman seni ludruk Surabaya, Sidik Wibisono, meninggal di rumahnya, Jalan Ploso Gang IX Nomor 20 A Surabaya, Rabu, 27 Mei 2015 sekitar pukul 13.00. Sidik meninggal dalam usia 73 tahun setelah sempat menjalani perawatan medis di rumah sakit Dokter Soewandhi Surabaya selama enam hari. “Bapak saya menderita sakit jantung koroner sejak beberapa tahun terakhir ini,” kata anak sulung Sidik, Eko Suryanto Wibisono, saat ditemui di rumah duka.

    Menurut Eko, di mata anak-anaknya ayahnya adalah sosok pahlawan. Sebab semasa hidup Sidik  berjuang keras  membesarkan lima  anaknya hingga semuanya meraih gelar sarjana. “Bapak adalah pahlawan bagi kami. Beliau selalu menekankan pentingnya pendidikan kepada kami,” tutur alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya itu.

    Kenangan anak-anaknya yang masih melekat terhadap almarhum, kata Eko, ialah kidungan-kidungan  yang rata-rata sarat pesan kehidupan. Pesan-pesan itu selalu diajarkan kepada anak-anaknya bila ada pertemuan keluarga. “Pasti kalau ada reuni keluarga Bapak mengajari kami ngidung,” kata dia.

    Sidik meninggalkan lima anak dari perkawinan dengan istri pertamanya yang telah mendahului meninggal, Surya Dewi. Mereka adalah Eko Suryanto Wibisono, Dwi Agus Sugiono, Mery Triana Dewi, Vivi Rosiana dan Yeni Erwati Dewi. Anak-anak Sidik telah berkeluarga dan hidup terpisah-pisah.

    Seniman ludruk seangkatan Sidik, Kartolo, turut merasa kehilangan dengan kepergian Sidik. Menurut Kartolo semangat pantang menyerah menjadi inspirasi yang patut ditiru dari sosok Sidik. Bahkan berkat Sidik pula, kata Kartolo, ludruk masih bergema di seluruh nusantara hingga kini. “Beliau sering mewarnai lawakan kami saat kami kehabisan bahan ketika tampil,” kata Kartolo.

    Kartolo menceritakan, awal mula terjun ke dunia seni ludruk Sidik merintis berdirinya grup Tri Sakti Surabaya pada  1969.  Tri Sakti Surabaya saat itu paling terkenal di Surabaya. Hampir setiap hari grup itu main di Taman Hiburan Rakyat Surabaya. “Setiap malam Cak Sidik naik turun panggung untuk menghibur penonton,” ujar Kartolo.

    Sidik juga pernah membentuk grup ludruk Sidik Cs. Boleh dibilang dari Sidik Cs-lah nama Sidik makin melambung. Selain siaran rutin di radio pada akhir 80-an, Sidik Cs juga pernah merambah dapur rekaman dan menghasilkan enam kaset. Sidik juga beberapa kali berkolaborasi dengan Kartolo dalam rekaman lawakan. Salah satu kasetnya yang terkenal berjudul Mantu Ula Sawa.

    MOHAMMAD SYARRAFAH


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.