Mad Max Fury Road: Kisah Feminis di Akhir Dunia (Review)

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (Kiri-kanan) Hugh Keays-Byrne, Nathan Jones, Charlize Theron, Rosie Huntington-Whiteley, Tom Hardy, Riley Keough, Megan Gale, Zoe Kravitz, Josh Helman, Courtney Eaton dan Abbey Lee, berfoto bersama di premier film

    (Kiri-kanan) Hugh Keays-Byrne, Nathan Jones, Charlize Theron, Rosie Huntington-Whiteley, Tom Hardy, Riley Keough, Megan Gale, Zoe Kravitz, Josh Helman, Courtney Eaton dan Abbey Lee, berfoto bersama di premier film "Mad Max: Fury Road" di Hollywood, California, 7 Mei 2015. Kevin Winter/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Alkisah di suatu masa, bumi menatap akhirnya. Tak ada lagi hutan, laut, dan gunung. Apa yang tersisa hanyalah padang pasir tanpa satupun oasis terlihat di ujung. Dan, di masa itu, satu-satunya cara bertahan hidup adalah menguasai sumber daya yang tersisa: air tanah dan minyak bumi. Namun, jumlah yang menipis, membuat manusia yang tersisa membentuk faksi dan berlomba menguasainya.

    Max Rockatansky (Tom Hardy), mantan polisi, tak ingin terlibat. Dirinya memilih untuk menyendiri, mengembara tanpa arah. Sial baginya, di tengah pengembaraan ia ditangkap sekelompok pria botak berkulit pucat karena tanpa sengaja memasuki wilayah mereka. Mereka, yang menjuluki diri War Boys, adalah anak buah dari seorang Warlord bertopeng tengkorak bergigi kuda, Immortan Joe (Hugh Keays-Byrne).

    Joe bukan sembarang Warlord. Dia memerintah di sebuah ngarai bernama Citadel, Ia memiliki misi mengusai dunia dan memenuhinya dengan keturunan murni. Untuk mencapai hal itu, ia menguasai perempuan-perempuan cantik yang tersisa sebagai istrinya sekaligus menguasai mata air bernama Aqua Cola agar tak ada satupun yang berani melawannya.

    Misi Joe membuat jijik panglima perangnya yang bernama Imperator Furiousa (Charlize Theron). Tak ingin melihat perempuan diperbudak Joe sebagai alat berkembang biak, Furiosa menculik lima istri cantik Joe yang disebut sebagai The Breeders. Max, yang mencoba kabur dari Joe, melihat misi Furiousa sebagai satu-satunya cara membebaskan diri.

    Kisah Max, Joe, dan Furiosa tersebut merupakan hidangan utama dari film terbaru sutradara veteran George Miller, Mad Max Fury Road. Patut dicatat, Fury Road adalah kisah terbaru seri Mad Max seusai film ketiganya, Beyond Thunderdome, rilis tiga dekade lalu.

    Fury Road adalah karya Miller yang ditunggu-tunggu penggemarnya. Bagaimana tidak, selain baru muncul 30 tahun setelah prekuel-nya, masa produksinya pada tahun 2011 terkendala banyak hal hingga harus menjalani serangkaian syuting ulang. Di satu sisi, Fury Road jadi penyegaran filmography Miller yang 10 tahun terakhir lebih diisi film anak seperti Happy Feet, Babe, dibanding yang 'ganas' seperti Mad Max.

    Uniknya, meski Fury Road memakai nama Mad Max di judulnya, fokus utama film ini justru bukan pada tokoh Max. Tokoh Max di Fury Road justru lebih seperti tokoh pembantu karena dialognya yang minim dan tanpa pengembangan karakter.

    Fokus utama Fury Road justru ada pada Furiosa dan The Breeders. Lewat keduanya, Miller memposisikan Fury Road sebagai sebuah film action fiminist di mana perempuan mencoba independen dengan melawan dominasi para pria. Lihat saja kisah filmnya, Furiosa mencoba membebaskan para Breeders dari Joe yang memperbudak mereka layaknya sebuah properti.

    The Breeders sendiri tidak ditampilkan layaknya perempuan rapuh yang harus selalu ditolong. Meski mereka terdiri atas perempuan-perempuan cantik dan terlihat lemah, mereka tetap mencoba membela diri dengan cara mereka. Bahkan semuanya berani baku tembak dengan pasukan Joe. Mereka tak ingin anak-anak mereka terus-menerus menjadi War Boys-nya Joe. "Kami bukan benda-mu," tulis mereka untuk Joe.

    Dibantu penulis drama dan feminis yang terkenal lewat karya The Vagina Monologues, Eve Enssler, kisah feminis yang ditampilkan Miller terlihat matang. Sepanjang film, tokoh Furiosa dan The Breeders konsisten sebagai tokoh feminis. Mereka tampil sebagai perempuan tangguh yang berani bertarung dengan pria. Bahkan, tak satupun dari mereka dipaksakan memiliki kisah cinta dengan Max.

    "Aku membaca skrip final (Fury Road) dan aku terkesima. Kekerasan terhadap perempuan, akibat ras dan ekonomi, adalah salah satu isu penting saat ini. Dan, film ini menekankan hal itu blakblakan," ujar Eve sebagaimana dikutip dari majalah Time.

    Mad Max menonjol bukan hanya karena kisah feminisnya, tetapi juga karena adegan kejar-kejarannya (car chase) yang menjadi ciri khas seri Mad Max. Hampir sebagian besar film ini diisi dengan adegan kejar-kejaran mobil beroktan tinggi antara Max, Furiousa, dan pasukan Joe. Paruh utama film pun diisi car chase nyaris tiada henti, diikuti musik rock metal dari Junkie XL yang membetot adrenalin.

    Adegan car chase Fury Road tak sekedar kejar-kejaran antarmobil. Ada kegilaan di dalamnya. Ambil contoh, di suatu adegan, penonton bisa menemukan salah satu mobil Joe yang mengejar Max mengangkut satu set speaker raksasa dengan gitaris metal unjuk bagian di atasnya. Dan, dari gitarnya, muncul api. Dua kata: absurd dan gila.

    Salut patut diucapkan pada Miller karena sebagian besar adegan kejar-kejaran itu tidak mengandalkan animasi komputer atau layar hijau. Sebaliknya, Miller mengandalkan practical effect di mana ratusan mobil yang mengejar Max benar-benar dihancurkan, dijungkirkan hingga pengendaranya benar-benar terpelanting tak karuan. Beruntunglah Miller, tak ada yang benar-benar tewas akibat ulahnya

    Desain produksi Fury Road juga tak kalah menarik. Untuk film ber-setting akhir dunia, setting Fury Road benar-benar terlihat ganas dan gersang. Miller bahkan membuat 150 mobil lintas medan khusus untuk setting itu. Selain itu, desain karakternya juga unik seperti manusia yang memakai pakaian burung, Joe yang memakai topeng tengkorak bergigi kuda, hingga satria bergitar pelontar api bernama Coma-Doof Warrior.

    Akhir kata, Mad Max Fury Road adalah film aksi yang anti-mainstream untuk standar film aksi 2010-an. Lupakan kehadiran pria-pria macho ala Vin Diesel di Furious 7 karena Fury Road adalah tempat tokoh perempuannya memiliki peran dominan. Lupakan juga atraksi gila mobil yang dibuat komputer seperti Furious 7 karena atraksi mobil di Fury Road 'benar-benar' gila.

    Mad Max Fury Road
    Studio: Warner Bros
    Sutradara: George Miller
    Produser: George Miller
    Pemeran: Tom Hardy, Charlize Theron, Rosie Huntington, Hugh Keays-Byrne, Nicholas Hoult.
    Durasi: 120 menit

    ISTMAN M.P.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.