Biennale Terracotta Digelar di Kasongan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karya seniman yang akan dipamerkan dalam Biennale Terracota 2015 di Sungai Bedog, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. TEMPO/Shinta Maharani

    Karya seniman yang akan dipamerkan dalam Biennale Terracota 2015 di Sungai Bedog, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. TEMPO/Shinta Maharani

    TEMPO.CO , Yogyakarta:Perhelatan seni rupa terakota, Biennale Terracotta 2015, akan digelar untuk pertama kalinya di tepian Kali Bedog, Kasongan, Bantul. Dalam ajang yang mengambil judul “Art on The River” ini karya seni rupa berbahan tanah liat akan dipajang sejauh 1 kilometer. 

    Menurut Noor Ibrahim, penggagas Biennale Terracotta 2015,  terdapat 55 seniman Indonesia dan 15 seniman dari luar negeri yang akan memajang hasil karya seninya. “Dengan perahu yang didesain khusus, pengunjung bisa menikmati karya seni yang dipajang di pinggir Kali Bedog,” kata dia di rumahnya, di kawasan desa budaya Gesik, Kalipucang, Kasongan, Bantul, Rabu lalu.

    Karya seniman Indonesia yang dipamerkan di antaranya ciptaan Djoko Pekik, pematung Edhi Sunarso, Dicky Chandra, Hari Budiono, Teguh Ostenrik, dan Kondang Sugito. Sedangkan seniman luar negeri yang terlibat antara lain dari Swedia, Jepang, Italia, Jerman, Inggris, Serbia, Slovakia, dan Hungaria.

    Noor mengatakan Biennale Terracotta sengaja mengangkat media terakota sebagai media utama karya seni karena sejarah Indonesia yang kaya akan budaya dan seni tanah liat. Hal itu pulalah yang menginspirasinya untuk mendirikan Terracotta Biennale Foundation.

    Sungai dipilih sebagai ruang pameran karya seni terakota karena sejarah dan budaya Indonesia tumbuh dari tepian sungai. Tapi, sekarang, kata dia, banyak sungai di Indonesia yang mulai ditinggalkan dan dipenuhi sampah. Penyelenggaraan Biennale Terracotta 2015 ini diharapkan mampu mengembalikan kejayaan sungai sebagai fungsi penyeimbang dan harmonisasi dengan alam. “Sungai menjadi urat nadi bumi, sumber ekonomi, dan transportasi,” katanya.

    Karya para seniman dibuat di pendopo tak jauh dari rumah Noor Ibrahim. Satu di antaranya adalah karya seniman Kondang Sugito berbentuk kura-kura raksasa. Ia memberi judul karya itu Apa Kabar. Ia membubuhkan tulisan aksara Cina yang punya arti ni hau ma atau apa kabar dalam bahasa Indonesia di tubuh kura-kura itu. Noor ingin menggambarkan adanya akulturasi budaya lewat tulisan tersebut.

    Kura-kura dipilih karena menyimbolkan binatang yang punya umur panjang dan lamban. Selain satu kura-kura raksasa, Sugito menciptakan 100 kura-kura mini. “Saya membuatnya selama dua minggu,” kata dia. Semua bahan yang ia gunakan adalah tanah liat dari Kasongan. Kura-kura raksasa miliknya kini tinggal melalui proses pembakaran.

    SHINTA MAHARANI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.