Ternyata, Ada Partai di Indonesia Jadi Pendukung Hitler

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Parindra memberikan penghormatan bergaya

    Anggota Parindra memberikan penghormatan bergaya "Heil Hitler" saat Woerjaningrat Soekardjo Wirjopranoto menuju makam MH Thamrindi Karet, Januari 1941. Sumber: Hitlers Griff nach Asien

    TEMPO.CO, Jakarta - Ideologi Nasionalsozialist atau populer dengan singkatan Nazi ternyata pernah subur berkembang di Indonesia sebelum Indonesia merdeka. Perwakilan Nazi bernama resmi Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei (NSDAP) atau Partai Nasionalis-Sosialis Pekerja Jerman, bercokol di Hindia Belanda sejak 1931. Didirikan oleh Walther Hewel, orang keprcayaan Hitler, NSDAP berkantor pusatnya di Batavia dan cabangnya tersebar di Surabaya, Bandung, Medan, Padang, dan Makassar. NSDAP Hindia Belanda bahkan menjadi perwakilan Nazi nomor dua terbesar di kawasan Asia Pasifik setelah Cina.

    Temuan menarik itu dibeberkan dalam buku tebal dua jilid yang baru terbit pada Februari lalu di Jerman berjudul: Hitlers Griff nach Asien (Jerman mencapai Asia), yang ditulis penulis Jerman Horst H. Geerken, 82 tahun. Bukan itu saja, menurut Geerken, Hitler sebagai Kanselir Jerman kemudian ternyata ikut menyokong perjuangan tentara Peta pimpinan bekas Presiden Sukarno dengan mengirim bantuan militer. Lengkap dengan tenaga ahli mengenal alat-alat perang dan pendidikan militer. Banyak bukti peninggalan yang mengarah ke sana, seperti pesawat, kendaraan militer, yang masih ada bekasnya sampai sekarang.

    Geerken bukan penulis kemarin sore. Pada 2010 ia mengeluarkan Der Ruf des Geckos, 18 erlebnisreiche Jahre in Indonesien, buku mengenai campur tangan CIA dalam kudeta Sukarno. Dalam versi Inggris buku itu berjudul A Magic Gecko, CIA’s Role Behind the Fall of Sukarno, dan terjemahan Indonesianya, A Magic Gecko, Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno. Di Jerman buku itu terjual sampai 10 ribu kopi.

    Selain NSDAP, di Hindia Belanda juga berdiri Nationaal Socialistische Beweging (NSB) pada 1934. Setahun kemudian, pendiri dan pemimpin NSB, Anton Adrian Mussert berkunjung ke Hindia Belanda. Selain NSB, partai milik Belanda yang berideologi Nazi di Hindia Belanda menurut Geerken adalah Nationaal-Socialitische Nederlandsche Arbeiderspartij (NSNAP) berdiri pada 1931, Nederlandsch-Indische Facisten Organisatie (NIFO), dan NSDP yang didirikan oleh Frans Schomper.

    Bukan saja partai orang Jerman atau Belanda, menurut buku tersebut, partai berideologi Nazi juga bermunculan di tengah rakyat pribumi Hindia Belanda. Ada Partai Facist Indonesia (PFI) dan Sejarah Facist di Nusantara (SFN), keduanya didirikan Dr Notonindito, yang pada 1924 belajar di Jerman dan mendapat gelar doktor di Berlin untuk bidang studi administrasi bisnis. Pada 1935 muncul Partai Indonesia Raya (Parindra) dan Gabungan Partai Politik (Gapi) pada 1936, lalu berdiri Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) pada 1937.

    Parindra yang didirikan Sartono, Amir Sjarifuddin, dan Muhammad Husni Thamrin adalah partai terbesar pada waktu itu. Pada 6 Januari 1941 Parindra dituduh Belanda menggalang hubungan erat dengan Jerman dan Jepang, dan Thamrin dikenai tahanan rumah. Lima hari setelah itu ia ditemukan meninggal misterius. Tidak ada yang tahu sebabnya. Menurut rumor, ia diracun pada saat diinterogasi Belanda. “Itu rumor yang beredar, yang saya dengar dari mana-mana,” kata Horst H. Geerken kepada Tempo.

    Yang menarik di halaman 109 (jilid I) buku Geerken dimuat foto rombongan petinggi Parindra yang mengiringi jenazah Thamrin, dipimpin Ketua Parindra Woerjaningrat Soekardjo Wirjopranoto. Soekardjo, yang memakai blangkon dan beskap Jawa resmi dengan dasi kupu-kupu, berjalan paling depan. Sementara para pemuda anggota Parindra mengenakan seragam celana pendek dan kaus kaki sampai sebetis, berbaris rapi di sebelah kanan dan kiri dengan penghormatan gaya "Heil Hitler", yakni sikap berdiri tegak, kepala sedikit menengadah sambil mengangkat tangan kanan ke arah langit. Inilah penghormatan tentara Nazi kepada Hitler.

    Menurut Geerken, Thamrin memang mengagumi ideologi Nazi. Ia mendirikan Parindra pada 1935. Ia berusaha menyatukan delapan partai kecil lain yang berideologi Nazi untuk bersatu dalam Gapi. “Memang Parindra  terpengaruh oleh NSB. Anggotanya berpakaian model Nazi. Tapi tidak ada bukti bahwa Thamrin itu fasis. Dia merasa nasionalis,” kata Rushdy Hoesein, 69 tahun. Menurut riset yang dilakukan Rushdy,  Thamrin meninggal karena disuntik mati oleh dokter J. Kayadu (dokter pemerintah Belanda). Ketika Jepang masuk, dokter Kayadu ditangkap dan dieksekusi mati.

    SRI PUDYASTUTI BAUMEISTER (JERMAN) | DODY HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kobe Bryant Sang Black Mamba: Saya Tak Ingin Jadi Michael Jordan

    Pemain bola basket Kobe Bryant meninggal pada 26 Januari 2020, dalam kecelakaan helikopter di dekat Calabasas, California. Selamat jalan Black Mamba!