Menteri Lukman Laris Selfie Bareng Ibu-ibu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. ANTARA/Andika Wahyu

    Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. ANTARA/Andika Wahyu

    TEMPO.CO , Tuban : Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin ternyata suka dikerubuti ibu-ibu yang ingin foto selfie bersamanya. Hal itu terjadi saat dia berkunjung ke Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Jumat 8 Mei 2015.

    Di Tuban Menteri Lukman laris manis diajak selfie bareng ibu-ibu karyawan Kementerian Agama di sana. Sebagian besar dari mereka adalah ibu-ibu peserta Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) tingkat Madrasah Aliyah Negeri se-Jawa Timur.

    Putra dari Syaifuddin Zuhri, menteri agama tahun 1960-an, itu datang ke Tuban untuk menghadiri acara Aksioma yang pembukaannya dipusatkan di Alun-alun Kota Tuban. Dalam kegiatan itu juga dibuka lebih dari 60 stand yang menyajikan pelbagai produk lokal Jawa Timur, dari makanan khas Tuban, pakaian batik, hingga makanan ringan dari sejumlah kabupaten di pesisir utara Jawa, seperti tape, pleret, jenang hingga wingko babat.

    Ceritanya, setelah Lukman selesai membuka Aksioma, ibu-ibu dari Kementerian Agama dan Pemerintah Kabupaten Tuban berebut untuk foto bersama dengannya. Lukman pun berusaha melayani permintaan mereka.

    Hal serupa terjadi hampir di setiap stand yang dikunjungi Lukman. Mumpung ketemu Pak Menteri. Ini foto langka," ujar Umi, karyawan di Kementerian Agama Jawa Timur yang ikut berfoto ria.

    Entah sudah berapa kali Lukman harus berfoto selfie dengan ibu-ibu itu. Jika dihitung dari jumlah stand yang melingkar sengah lapangan, jumlahnya lebih dari 60 stand. Tetapi, permintaan selfie tetap dilayani dengan senyum khas orang nomor satu di jajaran Kementerian Agama ini. "Ya, nggak apa-apa, namanya foto," ujarnya sambil tersenyum.

    SUJATMIKO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.