Film Indonesia Bisa Bicara di Masyarakat Ekonomi ASEAN  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Syuting film

    Syuting film "Jono Berlari". (Foto: Cinema Lovers Community Purbalingga)

    TEMPO.COJakarta - Dunia perfilman Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan di bidangnya pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, demikian benang merah diskusi penulisan cerita dan naskah film Bandung yang digelar komunitas film Bandung.

    “Dunia perfilman memiliki peluang pada MEA 2015. Pengaruh MEA terhadap perfilman akan besar dan itu menjadi tantangan besar tapi semua harus siap,” kata pengamat film Bandung, Lulu Fachrullah, di Bandung, Senin, 4 Mei 2015. Selain Lulu, hadir sejumlah sutradara film, seperti Sofyana Ali Bindiar, dan pemerhati Abdalallah Gifar.

    Lulu, salah seorang pendiri Traffic Light Pictures, menyebutkan, potensi dalam menjadikan Kota Bandung sebagai kota sinema cukup tinggi. Hanya, saat ini masih banyak aspek yang perlu diperbaiki. “Sebenarnya Bandung itu bukan industri, melainkan lebih kepada pergerakan komunitasnya yang menarik. Mungkin belum ada industri film, tapi potensinya ada,” ujarnya.

    Menurut Lulu, MEA 2015 merupakan sebuah kesempatan, bukan ancaman. Dia menyatakan pasar bebas antarnegara membuat kesempatan bagi para sineas untuk mendapatkan dana dan bebas mengembangkan filmnya tanpa harus terikat dengan negara.

    Tapi ketiga sineas muda ini masih mempertanyakan sejauh apa kesiapan Indonesia menghadapi MEA. “Jangankan film, sekarang agensi iklan menawarkan kepada klien Indonesia menggunakan kru dari luar dengan mahal, meski mungkin kemampuannya sama,” katanya.

    Ketika MEA, kata Lulu, orang tidak berbicara mengenai suku atau bangsa, melainkan melihat kemampuan. Bila industri film tidak siap, bisa tergeser.

    Sutradara muda asal Bandung, Sofyana Ali Bindiar—biasa dipanggil Ale—berpendapat, industri film Indonesia saat ini justru semakin menurun. Dia melihat jumlah penonton film Indonesia dari tahun ke tahun semakin menurun. “Tujuh tahun yang lalu kita lihat box office itu di atas satu juta. Sekarang standar box office menurun jadi 200 ribu. Bahkan film itu masuk daftar investasi negatif tahun kemarin,” kata Ale.

    Meski demikian, Ale optimis Bandung tetap dapat maju menjadi kota sinema. “Infrastrukturnya sudah mulai dibangun, pemerintah kotanya sudah mulai terbuka dengan industri kreatif,” katanya.

    Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menyatakan Bandung adalah kota yang bersahabat untuk produksi film. Sekarang film terbantu oleh adanya Badan Ekonomi Kreatif yang dikomandani Triawan Munaf. Bentuk konsep menjadikan film menjadi ujung tombak industri kreatif itu sudah ada.

    ANTARA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.