Banjir, Rumah Didik Nini Thowok Dipenuhi Sampah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Didik Nini Thowok. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Didik Nini Thowok. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Sungai Winongo yang meluap pada Rabu malam, 22 April 2015, menyisakan lumpur yang mengendap di halaman rumah Didik Nini Thowok, koreografer kondang asal Yogyakarta. Saat Tempo mendatangi rumahnya yang berada persis di samping sungai pada Kamis sore, tampak kursi sofa dan dua gulung kasur di sudut garasi masih basah.

    Area rumah yang biasa dijadikan tempat latihan menari itu pun baru saja dibersihkan. Aroma pewangi meruap dari lantai yang setengah basah.

    Didik mengatakan air sungai masuk ke rumahnya yang berada di RT 027 RW 06, Jatimulyo Baru, Kricak, Tegalrejo, sekitar pukul 21.30 WIB. “Baru ngeloni anakku, tiba-tiba sopirku yang sedang mengamati aliran sungai bersama warga lari ke rumah sambil teriak-teriak banjir,” kata Didik kepada Tempo.

    Sebelumnya hujan memang mengguyur wilayahnya. “Dikiranya cuma hujan biasa, ternyata banjir.”

    Bapak satu anak ini mengatakan selain air dan lumpur, sampah juga ikut masuk ke rumah seluas 235 meter persegi miliknya. “Sampah plastik, botol, dan ranting-ranting ikut terbawa banjir,” tuturnya. Naik sampai setinggi lutut orang dewasa, genangan air langsung surut setelah dua jam.

    “Lumpurnya langsung disemprot air. Kalau tidak malah susah menghilangkannya,” kata pemilik nama asli Didik Hadiprayitno ini.

    Didik mengatakan barang-barang berharganya sudah diamankan di lantai dua. “Properti tari yang mau aku bawa pentas ke Thailand September depan sempat kecelup, tapi langsung dibawa ke atas,” ujar lelaki kelahiran 1954 itu.

    Sejak menempatinya pada 1984, Didik mengatakan rumahnya sudah empat kali terkena banjir. “Paling besar banjir 1984, itu aku baru sebulan tinggal di sini. Lalu waktu erupsi Merapi 2010, awal 2012, dan Rabu malam itu,” katanya.

    Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Yogyakarta Bambang Surya Santoso mengatakan cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin kencang diperkirakan masih terjadi hingga tiga sampai tujuh hari ke depan. ” Masyarakat yang tinggal di wilayah rendah harus siaga jika hujan deras kembali mengguyur,” ujarnya.

    VENANTIA MELINDA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.