Record Store Day, Apresiasi Musik Lewat Piringan Hitam  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana diskusi peringatan Hari kaset Internasional (Cassette Store Day) dengan Moderator, Indra Ameng (kiri), Musisi Fariz RM (Kanan), Pendiri Radio Prambors Imran Amir (kedua kanan), Vokalis The Upstairs Jimi Multhazam (tengah) dan Pendiri Spills Record Jopie Koseng (kedua kiri) di Saffron Bistro, Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (7/9). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Suasana diskusi peringatan Hari kaset Internasional (Cassette Store Day) dengan Moderator, Indra Ameng (kiri), Musisi Fariz RM (Kanan), Pendiri Radio Prambors Imran Amir (kedua kanan), Vokalis The Upstairs Jimi Multhazam (tengah) dan Pendiri Spills Record Jopie Koseng (kedua kiri) di Saffron Bistro, Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (7/9). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ajang musik Record Store Day akan digelar dalam dua hari pada 18-19 April 2015. Ini adalah ajang apresiasi musik melalui gerakan kembali ke rilisan musik secara fisik, seperti kaset dan piringan hitam.

    Record Store Day akan dilangsungkan di sejumlah kota, yakni Jakarta, Malang, Semarang, Yogyakarta, Palembang, Samarinda, dan Palu. Di Jakarta, acara ini dilangsungkan di Bara Futsal Building (bekas bangunan Golden Truly), Jalan Falatehan Nomor 68, Melawai, Jakarta Selatan. Acara berlangsung pukul 10.00-22.00 WIB.

    Perhelatan Record Store Day adalah ajang tahunan yang awalnya berlangsung di Amerika pada awal 2000-an. Pengamat musik David Tarigan mengatakan ajang ini adalah gerakan untuk mengembalikan rilisan musik secara fisik, yakni piringan hitam.

    "Karena makin mudah orang mendengar musik yang didapat secara digital, download di Internet, itu semakin nyampah, makin kabur. Record Store Day ingin mengembalikan nilai-nilai apresiasi bagi penikmat musik untuk membeli secara fisik," kata David, Jumat, 17 April 2015.

    David mengatakan ajang Record Store Day menjadi semacam perayaan di bidang musik, baik bagi musikus maupun penikmatnya. Apresiasi lebih dirasakan musikus bila penikmat musik membeli dalam bentuk fisik.

    Begitu juga kepuasan menikmati musik akan dirasakan pendengar dengan membeli secara fisik. "Piringan hitam dibandingkan dengan melalui MP3 jelas berbeda. Mulai tempatnya, cover-nya, itu mempunyai nilai tersendiri," kata dia.

    David mengatakan membeli musik secara fisik kini mulai menjadi tren di Indonesia di tengah banjirnya musik secara digital. Awalnya ada kalangan yang menyebut gerakan membeli piringan hitam hanya sebagai nostalgia bagi generasi tua. Namun faktanya, kata David, kini banyak juga pembeli piringan hitam berasal dari kalangan muda.

    "Jadi ini bukan sekedar nostalgia cara menikmati musik seperti di masa lalu dengan piringan hitam, tapi sebuah tren yang terus berkembang," kata David.

    Acara Record Store Day juga akan dimeriahkan dengan beragam acara. Di Jakarta, misalnya, akan ada lebih dari 30 rilis piringan hitam, 90 partisipan dari toko piringan hitam, dan pertunjukan sejumlah band indie.

    Di hari pertama, band yang akan tampil di antaranya Bangkutaman, The Candies, dan Rumahsakit. Sementara di hari kedua band yang tampil di antaranya Animalism, The Upstairs, dan Strange Fruit.

    AMIRULLAH


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.