Ketika Hobi dan Musik Bertemu di Gramofon

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alat musik gramofon atau piringan hitam berada di dalam Istana Siak, Riau, 30 Oktober 2014. Alat musik tersebut di bawa oleh Sultan ke Indonesia saat melawat ke eropa pada 1886 silam. TEMPO/Riyan Nofitra

    Alat musik gramofon atau piringan hitam berada di dalam Istana Siak, Riau, 30 Oktober 2014. Alat musik tersebut di bawa oleh Sultan ke Indonesia saat melawat ke eropa pada 1886 silam. TEMPO/Riyan Nofitra

    TEMPO.CO , Yogyakarta: Musik dan hobi bertemu dalam satu alat musik lawas, gramofon. Darodjat mengaku bukan pencinta musik. Namun kecintaannya terhadap alat-alat tua mengantarnya sebagai kolektor piringan hitam agar gramofon di rumahnya bisa “bernyanyi”.

    ”Mayoritas gramofon yang saya dapatkan tidak bunyi, rusak,” kata Darodjat saat ditemui Tempo dalam pameran Gramapun dan Turntable “Corong Bernyanyi” di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), Kamis, 19 Maret 2015.

    Dengan telaten, Darodjat memperbaiki gramofon yang rusak sampai bisa difungsikan. Kini barang rongsokan dan tua itu mampu memutar piringan hitam seperti pada zamannya. Untuk mendengarkan piringan hitam, lelaki 57 tahun menyediakan ruangan khusus berukuran 4 x 6 meter persegi di rumahnya, Pakem, Sleman.

    Semua koleksi piringan hitam dan gramofon yang dikumpulkan sejak 2001 berada di ruangan khusus ini. Ketika alat putar musik mengeluarkan suara, saat itulah, kata Darodjat, serasa sedang menikmati hiburan yang luar biasa. ”Ini jarang saya bersihkan. Kalau debunya tambah tebal, kan tambah klasik,” kata dia.

    Koleksi pertama alat musik tua itu didapatkan di pasar loak Triwindu Solo pada 2001. Dia membelinya seharga Rp 1,5 juta. Pada 2004 ada pengepul barang bekas menawarkan gramofon portable atau koper. Kondisinya rusak parah. Tak ada teman yang berminat, meski dijual kurang dari Rp 1 juta. Darodjat pun tak menggubrisnya. Namun dia justru tak bisa tidur membayangkan gramofon rusak yang ditawarkan kepadanya. ”Malam saya telepon. Besok pagi saya ambil,” ujarnya.

    Setelah diperbaiki, gramofon itu bisa berbunyi. Berdasarkan katalog, gramofon itu bermerek Edison, buatan 1920. Ujung jarum di dua soundbox gramofon itu sempat rusak, ternyata terbuat dari berlian. “Ini pulung (keberuntungan),” kata Darodjat.

    Semua benda lawas itu dipamerkan di BBY pada 17-26 Maret 2015. Menurut pengelola BBY, Hermanu, jarum gramofon dari berlian memang lebih awet. Sebabnya, cara kerja jarum itu berputar mengikuti garis lingkaran piringan hitam. Bila dari baja, kata Hermanu, jarum itu gampang aus. ”Kalau terbuat dari berlian juga gampang rompal. Harganya bisa Rp 500 ribu.”

    PITO AGUSTIN RUDIANA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.