'Pantun Zaman Batu', Antikorupsi ala Butet Kartaredjasa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Budayawan Butet Kertaredjasa membacakan puisi di depan ratusan mahasiswa dalam Rapat Akbar Gerakan Anti Korupsi Nasional, di kampus UI Salemba, Jakarta, 20 Maret 2015. Dalam aksi tersebut mereka menyampaikan sejumlah tuntutan bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo. TEMPO/Imam Sukamto

    Budayawan Butet Kertaredjasa membacakan puisi di depan ratusan mahasiswa dalam Rapat Akbar Gerakan Anti Korupsi Nasional, di kampus UI Salemba, Jakarta, 20 Maret 2015. Dalam aksi tersebut mereka menyampaikan sejumlah tuntutan bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Seniman Butet Kartaredjasa turut menyumbangkan karya dalam acara Aksi Gerakan Antikorupsi yang diselenggarakan alumnus maupun sivitas akademika Universitas Indonesia. Butet akan membacakan pantun berjudul Pantun Zaman Batu dalam acara yang berlangsung di kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, itu.

    "Saya baca pantun saja," ujar Butet, Jumat, 20 Maret 2015. Dia mengaku mau mengisi acara ini karena untuk mengingatkan Presiden Joko Widodo bahwa kriminalisasi terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi maupun pendukungnya tetap berlanjut.

    Dia menilai polisi membangkang perintah Presiden Jokowi yang sudah meminta untuk menghentikan kriminalisasi. "Mereka bandel, mbangkang, kurang ajar itu. Ya harus diselentik presidennya," kata Butet.

    Dia mengingatkan pembangkangan oleh kepolisian itu tidak boleh dibiarkan. "Ini proses menuju suatu pembusukan. Kalau masih bisa diselamatkan, diselamatkan," kata Butet.

    Berikut ini pantun lengkap yang dibacakan Butet:

    Inilah pantun-pantun zaman batu,
    Pantun untuk mereka yang berkepala batu.
    Lihatlah siluman dan preman bersatu,
    Mencuri anggaran dengan bersekutu.

    Semua mabuk batu akik batu bacan
    Yang bawa senapan matanya mendelik cari sasaran.
    Hati-hatilah wahai kalian para cendekiawan
    Hanya karena berpikir waras bisa dikriminalkan.

    Tawuran, biasanya hujannya hujan batu
    Tawaran, biasanya uangnya uang dolar
    Jika akhirnya polisi dan koruptor bersatu
    Harus dilawan biarpun pangkatnya jendral

    Hujan emas di negeri orang
    Panen rejeki hatinya girang.
    Presiden bilang kriminalisasi dilarang,
    Tapi bawahannya tetap membangkang.

    Hujan akik di negeri sendiri,
    Hidup tercekik sudah menjadi ciri.
    Presiden mimpi jadi bangsa mandiri,
    Eh, impor komoditi tetap jadi mainan menteri.

    Hakim jujur bisa kehilangan palu,
    Hakim lucu dengkulnya berotak batu.
    Jika koruptor ketawa-ketiwi tak lagi punya malu
    Alumni perguruan tinggi harus mengganyang dan bersatu.

    LINDA TRIANITA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?