Sebelum ke Konser One Direction, Simak Pesan Ini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Boyband One Direction mendapatkan penghargaan 'artist of the year', 'favorite band, duo, or group', dan 'favorite album pop/rock' untuk album Midnight Memories, dalam American Music Awards 2014, Ahad 23 November 2014. Matt SaylesInvision/AP

    Boyband One Direction mendapatkan penghargaan 'artist of the year', 'favorite band, duo, or group', dan 'favorite album pop/rock' untuk album Midnight Memories, dalam American Music Awards 2014, Ahad 23 November 2014. Matt SaylesInvision/AP

    TEMPO.CO , Jakarta: Aksi panggung One Direction bakal  menggoyang Jakarta pekan depan. Boys band asal Inggris itu diperkirakan bakal menyedot perhatian  puluhan ribu directioners, istilah bagi para penggemar 1D. Mereka akan melakukan segala hal  agar bisa menyaksikan tokoh idola mereka.  Bagaimana harusnya orang tua menyikapi gejala  fanatisme tersebut?

    Menurut Psikolog Tika Bisono, antusiasme para  penggemar sangat mungkin menyita perhatian para  orang tua, terlebih bagi mereka yang pas-pasan secara ekonomi. Harga tiket yang dibanderol Rp 1,2  juta ke atas membuat mereka berfikir beribu kali merelakan uang sebanyak itu. "Kalau anak mereka gagal menonton, pastinya akan kecewa," ujarnya ketika dihubungi, 19 Maret 2015.

    Tika menilai beban itu mestinya tidak menjadi beban bagi para orang tua. Apalagi konser itu sudah dijadwalkan sejak setahun lalu. Jeda selama itu hendaknya digunakan mereka untuk melatih anak belajar berhemat dan menabung. "Anak-anak harus dididik berkorban untuk hal-hal yang mereka inginkan. Jangan selalu bergantung pada kemampuan orang tua," katanya.

    Lalu bagaimana jika tabungan mereka tak kunjung mampu membeli tiket? Menurut Tika, kesulitan itu bisa saja diatasi jika anak mereka memiliki teman-teman yang bersedia memberi bantuan. Meski peluangnya kecil, bantuan itu menunjukkan bentuk solidaritas di antara mereka. "Resiko terburuk, anak yang gagal menonton bakal kecewa," ujarnya.

    Aksi panggung One Direction bakal digelar tanggal  25 Maret 2015 di Gelora Bung Karno. Boys Band  yang beranggotakan Niall Hiran, Zayn Malik, Liam  Payne, Harry Styles, dan Louis Tomlinson itu  diperkirakan bakal menyedot puluhan ribu penggemar mereka di tanah air. Agenda kedatangan  mereka sempat tertunda sejak tahun lalu akibat  ketidaksiapan panitia.

    Menurut Tika, fanatisme terhadap figur selebritas merupakan gejala yang lazim. Kalangan remaja cenderung mengidolakan figur-figur yang  sejalan selera zamannya masing-masing. Tokoh dan kelompok musik seperti The Beatles, Deep Purple,  Queen, Michael Jackson, Slank, New Kids on the Block, Westlife, dan Metallica, merupakan beberapa di antaranya.

    "Mereka itu para bintang yang memiliki magnet dan  bisa mempengaruhi banyak hal bagi para
    penggemarnya," ujar Tika. Kegandrungan itu bisa mempengaruhi pola pikir para penggemar, prilaku maupun pilihan mereka dalam berbusana. "Mereka menjadikan tokoh idola sebagai cermin dan raw model," kata pasikolog yang pernah menjadi pengemar berat Deep Purple ini.

    Meski demikian, kata Tika, efek cermin itu bisa berakibat positif atau negatif. Seseorang bisa
    terjerat penggunaan narkotika, atau memiliki  penyimpangan orientasi seksual, persis seperti yang dilakukan tokoh idola mereka. Namun dampak itu  juga bisa berakibat positif seperti mengasah empati,  solidaritas atau kepedulian mereka terhadap lingkungan.

    Tika menjelaskan, pengidolaan terhadap publik figur merupakan bagian dari proses pencarian identitas kalangan remaja. Fanatisme itu akan menciptakan kelompok pertemanannya sendiri-
    sendiri. Saat berhadapan dengan situasi itu, orang tua memiliki peran mengarahkan anak mereka agar terhindar dari dampak buruk. "Orang tua harus ikut peduli," ujarnya.

    RIKY FERDIANTO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.