Film Ini Berkisah tentang Pulau yang Terancam Karam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Globfest.com

    Globfest.com

    TEMPO.CO, Makassar - “I like my home. I have the sea, I could live,” tutur Satty, pria 30 tahun, yang bekerja sebagai petani dan nelayan. Dia punya istri dan lima anak. Satty, Teloo, dan Endar adalah tiga tokoh sentral dalam film There Once Was an Island. Film dokumenter yang disutradarai oleh Briar March ini mengisahkan masalah yang dihadapi warga sebuah pulau di wilayah barat daya Pasifik, Polinesia, akibat perubahan iklim.

    Perubahan iklim mengakibatkan meningkatnya permukaan air laut dan mengancam pulau-pulau kecil. Dalam film berdurasi 80 menit ini, kita bisa menyaksikan bagaimana air laut masuk ke permukiman dan merendam sawah saat air pasang. Tak hanya itu, daratan semakin sempit karena terkikis air laut.

    Melihat kondisi ini, Satty, Tello, dan Endar mulai mempertanyakan nasib mereka. Masyarakatnya harus memilih: pergi meninggalkan tanah kelahiran, bahasa, dan budaya mereka untuk selamanya atau tetap tinggal meski bencana terus menguntit. Berdiam di pulau yang makin lama kian sempit.

    Film ini menggambarkan betapa ganasnya dampak perubahan lingkungan terhadap kehidupan. Film pilihan yang mengisi kegiatan pemutaran film dan diskusi di Perpustakaan Bakti, Jumat sore lalu, ini mengingatkan penonton untuk menjaga bumi. Ikut mempertimbangkan perilaku mereka di bumi yang berhubungan dengan kelangsungan hidup orang-orang di sekitarnya.

    Naiknya permukaan air laut diperkirakan karena meningkatnya suhu global. Peningkatan suhu global ini juga diprediksi menyebabkan peningkatan intensitas fenomena cuaca yang ekstrem serta perubahan jumlah dan pola presipitasi (proses pengendapan).

    Menurut Fiqhi Rizky, perdebatan dalam film ini lebih banyak berhadapan dengan kepercayaan masyarakat setempat, yakni di mana mereka dilahirkan, maka di situlah sumber kebudayaan mereka. "Jika mereka merantau, maka budaya mereka akan ikut bergeser," kata panitia pemutaran film ini.

    Jika melihat potongan-potongan gambar dalam film ini, menurut Fiqhi, peningkatan permukaan laut tak hanya akibat perubahan iklim, tapi juga ulah manusia yang marak melakukan reklamasi, seperti di Makassar dan Bali. Fiqhi menjelaskannya dengan mengambil contoh air dalam baskom. “Jika kita menaruh tanah ke dalam baskom, maka airnya akan tumpah,” ujarnya.

    Reklamasi adalah salah satu ancaman yang menyebabkan air laut semakin tinggi. Di Kepulauan Seribu, kata Fiqhi,  ada pulau kecil yang kini hilang karena pasirnya dikeruk untuk kepentingan reklamasi. Republik Kiribati, mulai tahun ini, juga mulai memindahkan penduduknya ke Fiji karena negara ini terancam hilang pada 2020.

    Anggota Forum Kajian Pesisir Universitas Hasanuddin, Syainullah Wahana, yang ikut dalam kegiatan ini, mengungkapkan bahwa hilangnya pulau disebabkan oleh aktivitas masyarakat yang merusak lingkungan. Mahasiswa pascasarjana ini menjelaskan bagaimana kegiatan manusia yang menggunakan bom sehingga merusak terumbu karang. Sedangkan keberadaan terumbu karang ini berfungsi sebagai penghalang ombak yang berjalan menuju pesisir atau daratan. Begitu juga keberadaan mangrove yang berfungsi sebagai pengikat daratan, pohon bakau ini juga dihabisi.

    Menurut Enal—sapaan akrab Syainullah—peningkatan permukaan air laut ini mengakibatkan beberapa pulau di kawasan Spermonde, gugusan pulau yang berada di perairan Makassar, juga terancam. Ia mencontohkan Pulau Bonetambung yang sudah hampir habis, Pulau Kodingareng Keke dan Samalona yang juga semakin sempit karena terkikis.

    Di kawasan Spermonde, kata Enal, bulan ini memasuki bulan barat. Artinya, daratan di sisi baratlah yang terkikis. Setelah perpindahan ke musim timur, maka daratanlah yang terkikis di sisi timur. Proses ini mengakibatkan daratan berpindah ke wilayah lain. “Mungkin ada pulau yang menyempit, tapi di wilayah lain, bisa jadi muncul dangkalan yang nantinya akan menjadi pulau,” ujarnya.

    Permukaan air laut yang mengancam pulau dan perubahan lingkungan sangat drastis, sehingga perlu mempersiapkan warga pulau untuk beradaptasi secara cepat. Bagaimana mengetahui cara supaya pulau itu aman terhadap gelombang, arus, dan angin yang kencang. Menurut Enal, peran peneliti dan mahasiswa diperlukan.

    Adapun upaya yang bisa dilakukan manusia sekarang adalah penanaman bakau di daratan atau pantai. Juga merehabilitasi terumbu karang, seperti membuat transplantasi karang dan kegiatan-kegiatan lainnya yang bisa menghindari proses pengikisan daratan.

    REZKI ALVIONITASARI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.