Kisah Penyanyi Tulus: Minder dan Masa Kecil yang Galau  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyanyi Muhammad Tulus Rusydi tampil melantunkan lagu dalam konser After Hour di Rollingstone Cafe, Jakarta, 13 Februari 2015. Tulus yang dinobatkan menjadi Rookie of The Year pada tahun 2013. TEMPO/Nurdiansah

    Penyanyi Muhammad Tulus Rusydi tampil melantunkan lagu dalam konser After Hour di Rollingstone Cafe, Jakarta, 13 Februari 2015. Tulus yang dinobatkan menjadi Rookie of The Year pada tahun 2013. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta -Musikus sekaligus  penyanyi  Muhammad Tulus cukup sibuk pada Maret ini. Ia  akan menggelar konser  di Yogyakarta. “Dalam satu bulan, kira-kira sepuluh kali manggung,” kata  lelaki 27 tahun ini  kepada Tempo beberapa waktu lalu.

    Di tengah kesibukannya itu ia  berbagi cerita mengenai perjalanannya di dunia musik. Lulusan arsitektur Universitas Parahyangan, Bandung, ini,  tak bisa memainkan alat musik sama sekali. Pun tak pernah mendapatkan pendidikan formal dalam bidang musik. Ia memang pernah mengikuti kursus vokal, tapi satu pekan lalu berhenti karena tak merasa nyaman. Ia mulai menjalani latihan pernapasan setelah album pertamanya diluncurkan. Itu pun ia pelajari sendiri lewat situs YouTube.

    Pertama kali Tulus menulis lagu saat ia kuliah arsitektur di Bandung. Ia hanya bergumam dan mengandalkan memori nada yang ada di otaknya. Tapi ia berterima kasih kepada temannya, Ardra Tedja. “Dia yang pertama kali ngajarin bagaimana menulis lagu,” katanya. Produsernya, Ari Renaldi, adalah orang terpenting berikutnya. Ari mengaransemen lagu-lagu bikinan Tulus sehingga memiliki warna saat ini.

    Lagu-lagu itu tak jauh dari kisah hidupnya. Lagu Gajah berkisah tentang bagaimana ia berusaha melihat hal baik dari masa kecilnya yang kurang menyenangkan. Ia bongsor. Tingginya 187 sentimeter, tambun, tak pernah jago olahraga, dan tak cemerlang di kelas.

    Dulu, ia merasa postur tubuhnya itu mengganggu. Teman-teman semasa kecilnya kerap memanggilnya dengan sebutan beruang, sapi, atau gajah. Ia mesti berusaha lebih untuk mendapatkan rasa percaya diri.

    Rasa minder itu hanya bisa diatasi dengan melakukan apa yang ia sukai dan membuat karya dari sana. Maka lahirlah Gajah. “Bikin itu lumayan lama, di kamar tidur, setelah merenung-renung,” ucapnya, mengenang.

    Gajah begitu penting buat Tulus, selain Teman Hidup, yang ia tulis untuk ibu dan kakak perempuannya, serta Jangan Mencintaiku Apa Adanya. “Enggak kepikiran bisa nulis lagu kayak gitu,” katanya.

    KARTIKA CHANDRA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    4 Fakta Kasus Suap Pajak, KPK Bidik Pejabat Dirjen Pajak dan Konsultan

    KPK menetapkan pejabat Direktorat Jenderal atau Dirjen Pajak Kementerian Keuangan sebagai tersangka dalam kasus suap pajak. Konsultan juga dibidik.