Pentas Kisah Baru Seputar Manusia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • skokieparks.com

    skokieparks.com

    TEMPO.CO, Bandung - Konon sebelum Adam dan Hawa lahir, seorang manusia telah lebih dulu ditempatkan di bumi. Ia seorang bocah lelaki tanpa nama, yang tenggelam dalam kesepian. Pada masa awal penciptaannya itu, bumi hanya mengenal siang hari. Sang bocah kemudian berteman dengan matahari yang sosoknya diwujudkan sebagai anak perempuan bernama Sun. Di bumi, mereka berdua bermain bersama, menjelajah banyak tempat, dari laut hingga angkasa, hingga menamai benda-benda yang mereka temukan. (Baca: Ilmuwan Ungkap Asal-usul Iklim Planet Mars)

    Dongeng sebelum tidur itu dituturkan seorang perempuan bernama Crystal Lady kepada Sineki, seorang anak perempuan, di kamarnya. Menurut Crystal, ketika Tuhan kemudian menciptakan bulan, dan waktu berjalan dengan bergantinya siang ke malam, bocah lelaki itu sangat kaget. Ia juga kecewa dan marah kepada matahari karena merasa ditinggalkan.

    Kekecewaannya berubah menjadi perasaan takjub ketika ia menatap ke langit melepas kepergian matahari. Ternyata kawan bermainnya itu punya tampilan memukau ketika beranjak pergi. Ketika siang berganti malam untuk pertama kalinya, ketakutan menyergap bocah yang kembali sendirian di bumi itu. Dan ketika bumi kembali terang, ia tak bisa lagi melihat matahari dengan perasaan yang sama. Bocah lelaki itu kini mengenal istilah pergantian dan sebuah peristiwa bernama waktu.

    Dongeng bocah lelaki penghuni pertama bumi itu menjadi tema lakon drama berjudul Sunset Deity atau Dewi Matahari Tenggelam yang dipentaskan kelompok Merchant of Emotion sehari dua kali, sore dan malam, di gedung teater tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Bandung, Jumat hingga Ahad, 23-25 Januari 2015. “Waktu menjadi tema besar dalam serial pertunjukan ini,” kata sutradara Kenya Rinonce. (Baca: Hari Antikorupsi, Teater Gandrik Pentas Lagi)

    Selain menawarkan kemungkinan kisah baru seputar manusia perdana di bumi, lakon ini mengusung kesimpulan soal kisah romantis pertama di bumi yang tidak ditakdirkan untuk bertahan selamanya. Tidak hanya itu, tokoh utama yang oleh penulis naskah Sutansyah Marahakim disebut stranger (orang asing) ini juga tak mau beranjak ke alam dewasa.

    Sutansyah menjelaskan, tokoh bocah kecil itu hanyalah satu sosok dari tema besar cerita yang rencananya akan dibuat secara serial. Gagasan lakon pementasan ini awalnya muncul dari pemikiran tentang sekumpulan manusia yang tak saling mengenal. Ia kemudian berfantasi soal kemungkinan orang-orang itu yang sudah hidup beberapa waktu silam. “Stranger pertama itu kisahnya dimulai ketika ia mengalami rasa kehilangan,” ujarnya. Kehilangan itu dinilainya sebagai proses dalam pendewasaan. (Baca: Merapal Mantra Rap Jogja)

    Tari, nyanyian, musik, dan permainan visual lewat video mapping mengiringi pementasan selama 60 menit itu. Panggung yang jembar dibagi menjadi dua bagian. Sebagian besar untuk pentas utama drama, dan sudut kanan dari arah kursi penonton digunakan untuk mengantar cerita. Sorotan tata lampu yang bergantian mengarah ke dua arena pentas itu menggiring penonton pada kisah beralur maju tersebut.

    Sunset Deity disiapkan kelompok Merchant of Emotion selama satu tahun. Produser pementasan, Tri Adi Pasha, mengatakan mereka menggarap sendiri lakon, musik dan lagu, serta koreografi tarian, termasuk latar dari gambar video. “Pementasan ini merupakan tiga langkah eksperimentasi kami, yakni mengajak anak muda untuk mau bekerja di kelompok teater, pementasan drama dengan video mapping, serta menjalankan bisnis yang menjanjikan di panggung teater,” kata Tri. (Baca: Musik Feminin Mian Tiara dan Jemima)

    Kelompok Merchant of Emotion yang dimotori 10 personel itu awalnya bernama Teater Epik. Kelompok yang dibentuk mahasiswa Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung pada 2009 tersebut sebelumnya pernah mementaskan beberapa lakon, di antaranya Nest pada 2011, Mendiang Republik pada Mei 2013, dan Taraksa pada tahun yang sama.

    Kini, dengan nama baru, kelompok ini mengajak mahasiswa dan alumni yang tertarik di dunia hiburan, seperti penari, pemusik, dan aktor, untuk bergabung. “Teater hanya salah satu media untuk membuat hiburan yang lebih di Indonesia,” ujar Adi. Mereka pun menolak istilah menonton teater dengan harga murah dengan tiket cuma seharga Rp 5.000 atau Rp 10 ribu. Untuk pementasan Sunset Deity, mereka membanderol selembar tiket setara sehelai uang Rp 50 ribu untuk kursi kelas biasa (reguler) dan Rp 100 ribu untuk kelas VIP yang jaraknya lebih dekat ke panggung.(Baca: "Hantu" Prancis di Pohon Beringin Teater Jakarta)

    Meskipun secara visual cukup apik, terutama dengan keberadaan perangkat multimedia, kostum pemain yang terkesan apa adanya membuat pementasan ini terasa timpang. Pemain utama, misalnya, hanya mengenakan kaus dan bercelana selutut tanpa alas kaki. Dewi Matahari pun cukup bergaun rok pendek warna kuning. Dibandingkan dengan gaun ungu yang melekat di tubuh Crystal Lady dan para penghuni malam, kostum yang dikenakan pemain utama, dari awal hingga drama berakhir, kelewat sederhana.

    Selain itu, dari segi penceritaan, tak semua penonton bisa menikmati pementasan tersebut. Muhammad Hilmi Faiq dan Prima Mulia, misalnya, mengaku jenuh saat menyaksikan bagian awal hingga menjelang akhir pertunjukan yang didominasi dialog bocah tanpa nama dengan Dewi Matahari. Penonton lainnya, Mediana, mengaku tak cukup mengenal tokoh utama lakon tersebut. Siswi SMA 20 Bandung yang juga pemain kabaret di sekolahnya itu berharap bisa mengenal karakter tokoh utama lebih dalam lagi lewat durasi pementasan yang lebih panjang.

    Rencananya, pada akhir 2015 nanti, Merchant of Emotion akan menggelar pementasan serupa di Jakarta. Tentu dengan sejumlah perbaikan agar penonton benar-benar bisa menikmati pertunjukan mereka. (Baca: Sastra Kepulauan VII Ditutup dengan Meriah)

    ANWAR SISWADI
    Terpopuler
    Syahrini Pamer Foto Bersama Paris Hilton di Bali 
    Warga Antusias Hadiri Konser Anti-PEGIDA
    Waljinah, Si 'Walang Kekek' Kembali Sakit 
    Pelukis FX Harsono Raih Josep Balestier Award

     


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sepak Terjang Artidjo Alkostar Si Algojo Koruptor

    Artidjo Alkostar, bekas hakim agung yang selalu memperberat hukuman para koruptor, meninggal dunia pada Ahad 28 Februari 2021. Bagaimana kiprahnya?