40 Days in Europe, Ingin Seperti Laskar Pelangi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Film 40 Days in Europe. indiegogo.com

    Film 40 Days in Europe. indiegogo.com

    TEMPO.CO, Bandung - Para penggagas dan produser film 40 Days in Europe merancang karyanya untuk berjaya di berbagai festival film internasional. Adapun penonton yang ingin diraih dalam pemutarannya di bioskop, paling sedikit 833 ribu orang.

    Potensi meraih sukses di festival internasional ingin diraih dengan cara, antara lain, mengangkat budaya lokal lewat angklung, serta kekuatan dan inspirasi cerita. Sedangkan agar produksi film berbiaya Rp 10 miliar tidak merugi, sedikitnya harus menjaring 833 ribu penonton bioskop.

    Target tersebut dinilai realistis, berdasarkan kesuksesan film Indonesia hasil adaptasi buku. Film yang menembus sejuta penonton antara lain, Laskar Pelangi, Habibie dan Ainun, dan Ayat-ayat Cinta.

    Salah seorang penulis skenario film itu yang juga penulis buku 40 Days in Europe, Maulana M. Syuhada mengatakan, kemiripan latar dan cerita dalam buku dengan film tak seluruhnya sama. Cerita rekaan (fiksi) pun diselipkan di antara kisah nyata. "Film ini sangat berbeda dengan buku," ujarnya, Senin 19 Januari 2015.(Baca : Yogyakarta Tuan Rumah Festival Film Disabilitas)

    Cerita film mengambil sudut pandang dari tokoh utama bernama Ligar. Pemuda berusia 17 tahun itu mengalami dilema ketika ditunjuk menjadi konduktor tim angklung untuk misi budaya ke Eropa selama 40 hari dari sekolahnya.

    Walau ayahnya menentang, Ligar memutuskan berangkat. Sesampai di Eropa, masalah bermunculan, seperti kelompok angklung mereka yang tidak punya uang, hingga misi terancam gagal, dan hidup terlantar di Eropa. Masalah diperburuk dengan perseteruan Ligar dengan salah seorang anggotanya.

    ANWAR SISWADI

    Berita Terpopuler
    Ciuman di Playboy, Rihanna Kagumi Leonardo
    Gitaris Metal Berjilbab di Mata Pemain Band 
    Gadis Jelita Ini Tantang Ahok Sediakan Toilet Umum
    Penyanyi Swedia Berfoto Kenakan Kondom di Betis  


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.