Evolusi Pembantu Menjadi Penulis dan Motivator

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 122  TKI ilegal berbaris usai dipulangkan dari Malaysia, dan tiba di bandara Juanda, Surabaya, 24 Desember 2014. TEMPO/Fully Syafi

    122 TKI ilegal berbaris usai dipulangkan dari Malaysia, dan tiba di bandara Juanda, Surabaya, 24 Desember 2014. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Jakarta - Eni Kusumawati. Namanya mungkin masih terasa asing di telinga. Namun tidak demikian di kalangan tenaga kerja Indonesia, khususnya di Hongkong. Menjadi babu di Hongkong 14 tahun silam, ia lalu berkenalan dengan penulis di sana. Kemudian ia tergerak menulis tentang motivasi hidup dari kacamata seorang pembantu rumah tangga. Ia tekun menulis ketika pada 2005 bergabung ke Cafe de Kossta, mailing list para TKI Hong Kong yang hobi menulis.

    Di milis itu, Eni rutin mengunggah cerita pendek dan puisi dengan nama pena Eni Kusuma. Namun yang menyemangatinya adalah sastrawan Jawa, Bonari Nabonenar. Eni bertemu Bonari di sebuah bengkel kerja penulisan di Hong Kong. Salah satu puisinya terpilih bersama karya seratus penyair lain dalam buku Jogja 5,9 Skala Richter. Cerpen dan puisinya juga beberapa kali dimuat di Majalah Peduli asuhan Bonari yang terbit di Hong Kong. Kini, ia sedang menyusun buku ketiganya, yang bertutur soal hubungan ibu dan anak, pendidikan anak, serta motivasi hidup.

    Perempuan 37 tahun—yang gagap bicara pada masa kecilnya—selalu menekankan kepada para peserta kelas motivasinya untuk selalu bermanfaat bagi orang lain, apa pun profesinya, tak terkecuali pembantu rumah tangga. Ia memang tak pernah minder sebagai seorang babu. Dalam tulisannya yang berjudul Revolusi Babu di buku Anda Luar Biasa!!!, Eni menulis bahwa para pekerja rumah tangga yang mengabdi dengan kesabaran seharusnya dicontoh oleh para pemimpin bangsa ini. "Seandainya pemimpin, cendekiawan, dan ulama mempunyai etos kerja mengabdi, Indonesia pasti bisa makmur," katanya kepada Tempo, Senin, 5 Januari 2015.

    Bungsu dari tiga bersaudara ini lahir dari orang tua penjual kerupuk. Kemiskinan membuat Eni sering menunggak uang sekolah. Lulus sekolah menengah atas, Eni sempat bekerja sebagai petugas administrasi di perusahaan ikan di Pelabuhan Muncar, Banyuwangi. Namun kantornya gulung tikar. Eni pun nekat menjadi merantau sebagai TKI ke Hong Kong karena orang tuanya terbelit utang. Di sana, Eni memanfaatkan hari libur untuk menekuni hobinya, membaca. Dia selalu nongkrong di perpustakaan setiap jadwal libur yang hanya dua kali dalam sebulan itu.

    IKA NINGTYAS

    Berita lainnya:
    Aelke Mariskha Pilih Kosmetik Alami dan Aman
    Mayra Hills, Pemilik Dada Terbesar di Dunia
    Putri Indonesia Elvira Bawa 40 Baju Sponsor ke AS


  • TKI
  •  

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.