Lokasi Syuting Jadi Kesepakatan Produser dan Jabar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tokoh Nahdathul Ulama Solahuddin Wahid (kiri) bersama pendukung film Sang Kyai, Ikranegara (kedua kiri), Christine Hakim dan Agus Kuncoro menghadiri penayangan film Sang Kyai di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta (21/5). ANTARA/Teresia May

    Tokoh Nahdathul Ulama Solahuddin Wahid (kiri) bersama pendukung film Sang Kyai, Ikranegara (kedua kiri), Christine Hakim dan Agus Kuncoro menghadiri penayangan film Sang Kyai di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta (21/5). ANTARA/Teresia May

    TEMPO.CO, Jakarta - Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI) dan Pemerintah Provinsi Jabar melakukan penandatangan kerjasama atau MoU tentang peningkatan produksi film nasional dengan menggunakan lokasi syuting di wilayah Jabar.

    Penandatanganan MoU dilakukan oleh Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, dan Ketua Umum PPFI, HM Firman Bintang di Gedung Sate, Bandung, Jabar, Kamis, 15 Januari siang, disaksikan Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar, Direktur Pengembangan Industri Perfilman Kementerian Pariwisata Armain Firmansyah, dan Wakil Ketua DPRD serta Sekretaris Daerah Provinsi Bandung.

    Dasar penandatangan MoU itu dilakukan sebagaimana diamanatkan Undang Undang Perfilman No.33, tahun 2009 pasal 54, tentang pemerintah daerah wajib memfasilitasi pembuatan film indonesia.

    Memberikan bantuan pembiayaan apresiasi dan pengarsipan film. Dan pasal 55 yang berbunyi, pemerintah daerah mempunyai tugas melaksanakan kebijakan dan rencana induk perfilman nasional, serta menyediakan sarana dan prasarana untuk pengembangan dan kemajuan perfilman.

    Selain itu, dengan kerjasama itu, diharapkan pengembangan perfilman di Jabar makin cepat terlaksana. Karena film dinilai juga sebagai media efektif untuk pengembangan potensi diri dan pencerdasan bangsa. "Jabar memiliki keunggulan alam dan wisata yang lebih dari bisa untuk dijadikan lokasi syuting film," ujar Kang Aher, sapaan akrab Ahmad Heryawan sembari berharap MoU itu akan turut meningkatkan produksi film nasional.

    Jangka waktu kesepahaman itu, akan berlaku selama 5 tahun, dan dapat diperbarui kemudian. Dikatakan Ketua Umum PPFI, HM Firman Bintang setiap tahun rata-rata film Indonesia diproduksi 100 judul film, dan 80 persennya adalah film produksi anggota PPFI. "Kalau saya minta anggota PPFI berhenti berproduksi, maka film Indonesia hanya 20 judul setiap tahunnya," kata pemilik rumah produksi BIC Pictures dihadapan sejumlah produser dan insan film.

    Dan dari 100 judul film yang beredar dalam setahun, 70 judul film, ujar Firman lagi, biasanya merugi. Dengan demikian, secara bisnis, bergerak dalam industri ini, banyak ruginya, "Tapi karena kami mencintai film, kehormatan film akan terus kami jaga".

    Firman memberikan contoh, Manoj Punjabi pernah membuat film berjudul Di Bawah Lindungan Ka'bah, yang menelan biaya Rp 24 miliar, tapi hanya 'masuk' Rp 4 miliar.

    Demikian juga dengan Gope Samtani yang membuat film Sang Kiai, yang membutuhkan bujet di atas angka Rp 10 miliar, tapi pemasukannya juga tidak ada seperlimanya.(Baca : Sang Kyai Wakili Indonesia di Ajang Oscar)

    "Jadi, kami bukan semata-mata berdagang, tapi juga menjaga kehormatan perfilman Indonesia," ujar Firman dihadapan produser film diantaranya Gope Samtani (Rapi Films), Raam Soraya dan Rocky Soraya (Soraya Films), Chand Parwes servia (Starvision Plus), Manoj Punjabi (MD Pictures), Rajes Punjabi (MVP Pictures) Wiryo Wibowo (SinemaArt). Rudi Sanyoto, Harry Simon (Jatayu Film), Sukdew dan Wiky (Screenplay), Manoj Samtani (13 Production), Aa Gatot Brajamusti (Ketua Parfi), Zairin Zain (Citra Sinema). Serta beberapa aktor dan aktris seperti Dwi Yan, Pangki Suwito, Ira Wibowo, Maeeva Amin, Surya Saputra, juga Edison Nainggolan (tokoh perfilman Jabar dan Dewan Pertimbangan PPFI).(Baca : Sang Kyai Film Terbaik FFI 2013)

    Firman menambahkan, bukan hanya orang film yang bertanggung jawab untuk mengembangkan industri perfilman, tapi masyarakat luas juga harus turut di dalamnya. Dengan MoU ini, akan menambah enerji PPFI untuk terus memproduksi film nasional. "Tentang peningkatan pariwisata adalah bagian dari tanggung jawab kami, dengan fasilitasi ini, kami akan turut meningkatkan potensi pariwisata di Jabar."

    Ahmad Heryawan mengatakan sangat senang dengan pertemuan unik dan langka dengan para insan film. "Film adalah bagian dari seni dan keindahan. Demikian juga dengan karya Al Quran ciptaan Allah SWT  yang sangat indah. Allah menisbakan dirinya dengan keindahan. Berarti kalau film bagian dari keindahan, berarti kita menjalankan misi keindahan," katanya.

    Dengan demikian, kata dia, film turut mencerahkan dan mensejahterakan manusia. Menurut dia, Jabar memiliki 70 persen kebun teh di indonesia, plus dua kawah besar kapasitas world class, Tangkuban Perahu dan Kawah Putih dan pantai Selatan dari Pangandaran hingga Pelabuhan Ratu. Dengan 46 juta orang pasar penonton film di Jabar, dengan sendirinya, pemprov Jabar juga pasar menjanjikan.

    Sementara itu, menurut Direktur Pengembangan Industri Perfilman Kementrian Pariwisata Armain Firmansyah, tahun 2014 sudah 153 film maker asing yang syuting di indonesia, dan Jabar dan Bali paling favorit. Penerapan perijinan yang ringkas sudah dilakukan direktorat film sejak beberapa tahun lalu. Dengan kemudahan visa masuk ke Indonesia, via clearing house.

    EVIETA FADJAR

    Berita Terpopuler
    Konflik TIM, Suara Seniman Beragam
    Glenn Fredly Tak Setuju Jonan Hapus Tarif Murah
    Benny Simanjuntak, Kerjasama Musisi Hollywood
    Nikita Mirzani Siap Jalani Hukuman Lagi  


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.