Seniman Yogya Serukan Korupsi Adalah Kita  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pementasan

    Pementasan "Sidang Susila" oleh Teater Gandrik Yogyakarta di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 22 Februari 2008 [Foto : TEMPO/ Dimas Aryo; DA2008022207]

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Perilaku korupsi yang kian subur tumbuh di Indonesia dinilai tak lepas dari perilaku budaya yang masih hidup dan berkembang di masyarakat.

    "Sikap permisif, paternalistik, feodal, dan acuh tak acuh menjadi bagian sikap budaya yang turut memupuk korupsi itu dari penyakit kecil hingga jadi kanker pembunuh," ujar seniman Yogyakarta Agung 'Leak' Kurniawan di sela diskusi jelang peringatan Hari Antikorupsi Sedunia di Balai Kota Yogyakarta, Senin, 8 Desember 2014. (Baca: Doa Pendemo di depan KPK: Penjarakan Suryadharma)

    Berangkat dari suburnya perilaku korupsi itu, Agung bersama sejumlah seniman lain di Kota Yogyakarta memutuskan terjun dalam peringatan Hari Antikorupsi Sedunia yang digelar Komisi Pemberantasan Korupsi selama tiga hari di Kota Yogya, 9-11 Desember 2014.

    Para seniman yang berasal dari berbagai lintas seni itu bersama KPK akan menggelar tiga acara besar pada pembukaan festival antikorupsi pada Selasa, 9 Desember 2014. Dari Pawai Gropyokan, Proklamasi Rakyat Antikorupsi, dan Konser Musik Gropyokan.

    "Korupsi Adalah Kita" merupakan tema besar memperingati Hari Antikorupsi Sedunia di Yogya. (Baca: Koalisi Anti- Mafia Tambang Ajak Jokowi Blusukan)

    Berangkat dari tema itu, para seniman pun menggunakan tikus sebagai simbol perilaku korupsi yang rentan menyerang dari diri sendiri. Gambar tikus itu bakal diwujudkan dalam bentuk topeng agar dikenakan warga sepanjang mengikuti berbagai acara yang digelar saat peringatan Hari Antikorupsi.

    "Kami mengajak memerangi korupsi dari diri sendiri dulu, sebelum melihat keluar," kata Agung.

    Kalangan seniman pun mendukung upaya KPK yang menjadikan Yogya sebagai pilot project program pencegahan korupsi berbasis keluarga tahun ini. "Keluarga seharusnya jadi benteng pertama untuk mencegah perilaku korupsi. Tapi, kenyataannya sekarang berbalik, keluarga justru kerap menjadi pendukung korupsi itu," ujar Agung. (Baca: Enam Modus Korupsi Penyusunan APBN Versi KPK)

    PRIBADI WICAKSONO

    Terpopuler
    Olga Lydia Tak Setuju Pengurangan Jam Kerja Perempuan

    Alena Bantu Wujudkan Mimpi Anak Indonesia

    Christine Dukung Pengurangan Jam Kerja, Asal... 

    Konsumsi Ikan Turunkan Risiko Tuli 

    Gaya Romantis Sambut Natal 2014  




     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?