Paula Verhoeven dan Ketakutan pada Kamera

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Paula Verhoeven. TEMPO/Nurdiansah

    Paula Verhoeven. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Model Paula Verhoeven sebenarnya sudah sering mendapat tawaran main film sejak lama. Tapi baru kali ini ia punya keberanian menerima tawaran itu. Paula bermain di film yang diangkat dari novel Dewi Dee Lestari dengan judul yang sama, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Model berusia 26 tahun ini berperan sebagai Diva, supermodel yang cerdas tapi juga berprofesi sebagai pelacur kelas atas.

     

    Tawaran untuk menjadi Diva datang akhir tahun lalu, tepat pada bulan Desember. Ia sempat tak memberi jawaban dan malah pergi ke Milan, Italia, selama tiga bulan untuk bekerja di salah satu rumah mode ternama. Belakangan setelah berulang-ulang membaca buku dan naskahnya, baru Paula merasa yakin. Rupanya, hal yang paling berat buatnya adalah menjawab tantangan bicara di depan kamera.

     

    Kalau di runway kan nggak perlu ngomong. Dan modelling adalah sesuatu yang sudah biasa. Akting satu hal yang baru pertama kali aku lakukan dan buat aku benar-benar baru. Tadinya aku pikir aku nggak bisa. Karena buat aku, ngomong di depan kamera itu mengerikan, kayanya tuh malu,” kata dia kepada Tempo di Cilandak Town Square, Selasa pekan lalu.

     

    Ia pun menambahkan, berperan sebagai Diva sebenarnya cara untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ternyata ia bisa melawan ketakutannya. Juga rasa tidak percaya dirinya yang tinggi.

     

    Paula mengatakan ia selalu berdiskusi dengan produser Sunil Soraya dan sutradara Rizal Mantovani saat sesi reading atau membedah naskah. Ia membaca novel pertama dari trilogi Supernova itu sampai lima kali. Khusus pada bagian Diva, ia membacanya lagi berulang-ulang. Ia ingin benar-benar memahami siapa dan bagaimana seorang Diva yang penuh percaya diri, berwawasan luas, dan kata-katanya selalu didengarkan orang.

     

    Orang sangat tertarik ngomong sama dia, punya sex appeal yang tinggi. Aku harus memposisikan diriku sebagai Diva dan mencari tahu bagaimana Diva. Aku tanya kalau aku begini bagaimana? Mereka bilang kurang, harus lebih percaya diri. Aku tanya lagi bagaimana kalau kaya gini?”

     

    Paula juga belajar dari aktir-aktor lainnya. Ia banyak berlatih bersama Herjunot Ali, yang memerankan Ferre. Mentor utamanya Sunil dan Rizal. Skenario yang cerdas, kalimat-kalimat yang canggih dan cukup panjang adalah tantangan terbesar buatnya. Memahami bahasa novelnya saja, Paula mengaku agak kesulitan. Ia harus selalu dekat dengan perangkat dengan koneksi internet. Setiap kali harus mengandalkan Google untuk mencari tahu tentang bifurkasi, turbulensi, daln lain-lain.

     

    Tantangannya itu menghafalkan, memahami dan akhirnya memerankan, mendalami. Karena nggak mungkin asal ngomong doang, harus tahu apa yang kita ucapkan,” kata perempuan kelahiran Semarang ini.

     

    Apalagi Paula belum pernah membaca novel ini sebelumnya. Ia baru membaca Supernova sepulang dari Milan, Italia awal tahun ini. Itu pun setelah ia tahu, produser film belum juga menemukan sosok yang pas untuk memerankan Diva. Ia kembali ditawari. Ia tahu banyak temannya yang menyukai novel itu dan bahwa Supernova sangat populer saat diluncurkan pada 2001.

     

    Pas aku baca alur ceritanya menarik. Begitu aku baca skenario, aku langsung merasa oke, aku mau ikut nih film,” ujar perempuan berdarah campuran Belanda, Jawa, dan Cina ini.

     

    Saking sukanya dengan alur cerita Supernova, baru kali ini Paula berhasil membaca novel sampai selesai. Ia bahkan tak menyangka bisa membaca novel sampai halaman terakhir. Sebelumnya, ia selalu merasa kelelahan di tengah dan akhirnya berhenti. Supernova bisa membuatnya penasaran untuk mengetahui bagaimana akhir cerita cinta tokoh-tokohnya. Padahal novel-novel yang ia baca sebelumnya bukan novel yang rumit.

     

    Sementara ia harus bolak-balik mengulang membaca Supernova, terutama di 10 halaman pertama novel itu yang menurutnya sangat susah dipahami. Ia sering curhat kepada mentornya, bagaimana seharusnya menampilkan Diva? “Ya harus tetap elegan walaupun dia prostitute tapi sebenarnya hatinya tuh nggak ke situ, dia punya misi menghidupkan yayasan dan anak-anak didiknya. Jadi dia bekerja untuk itu, uang yang dia dapat ke situ.”

     

    Setelah menyelesaikan Supernova, Paula juga menjadi sadar ternyata main film sangat menyenangkan. Apalagi setelah berhasil mengalahkan rasa malau bicara di depan kamera. Ia bahkan mulai mempertimbangkan jika nanti ada tawaran yang ia rasa cocok, ia terbuka untuk bermain film lagi. Salah satu keinginannya adalah bermain di film action.

     

    KARTIKA CANDRA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.