Fan The Rolling Stones Nikmati Konser Sampurastun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Konser. nytimes.com

    Ilustrasi Konser. nytimes.com

    TEMPO.CO, Bandung - Sekitar 500 penggemar band The Rolling Stones di Bandung berkumpul untuk menikmati konser Sampurastun di Taman Budaya Jawa Barat atau Dago Tea House, Jumat sore hingga tengah malam, 21 November 2014. Lebih dari 120 lagu The Rolling Stones siap dibawakan belasan band dalam konser ini.

    Penggagas konser tersebut, Budi "Dalton" Setiawan, kepada Tempo mengatakan semua lagu diatur tidak ada yang sama atau berulang. "Kecuali jika ada bintang tamu yang membawakan, itu sulit dicegah," katanya di sela konser.

    Menurut Budi, konser ini dijadikan wadah berkumpul para penggemar The Rolling Stones di Bandung yang selama ini jarang bertemu di acara musik di tempat terbuka. Karena itu, konser ini dinamai Sampurastun--gabungan dari dari salam orang Sunda, sampurasun, dan The Rollling Stones. "Komunitas penggemar Stones di Bandung sekitar 1.700 orang," ujarnya.

    Selain grup musik lokal, sejumlah musikus top juga bakal tampil. Antara lain The Black & Blue bersama Kaka Slank dan Steven Jam, Acid Speed Rock, Time Bomb Blues, Yuki Pas Band, serta Maggy dan Jikun /rif.

    Konser yang dimulai pada pukul 15.00 ini berjalan tertib dengan penjagaan ketat. Panitia secara tak langsung menyeleksi penonton dengan harga tiket Rp 150 ribu. "Memang mahal buat kita, tapi konser jadi tertib dan aman," kata Tatang, salah seorang penonton. Menurut dia, konser penggemar The Rolling Stones di tempat terbuka di Bandung sering tak terkendali.

    ANWAR SISWADI

    Berita lain:
    Ide Susi Tenggelamkan Kapal Pencuri Ternyata Wajib
    Hadiri Wisuda Anaknya, Jokowi Naik Pesawat Ekonomi
    Dikeroyok Debt Collector, Anggota TNI AL Tewas

     


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.